Piala Dunia 2026: Selandia Baru Tersingkir, Pelajaran Berharga untuk Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Selandia Baru mengakhiri perjalanan Piala Dunia 2026 setelah dihajar Belgia 5-1, finis sebagai juru kunci Grup G.
- Pelatih Darren Bazeley menegaskan pengalaman ini akan menjadi modal berharga bagi skuad muda Kiwi, meski gagal memanfaatkan peluang di laga awal.
- Striker Chris Wood mendorong para pemain untuk merambah liga-liga top Eropa demi meningkatkan level tim nasional.

Kekalahan telak 5-1 dari Belgia pada Jumat (26/6) di Vancouver memastikan Selandia Baru harus pulang lebih awal dari Piala Dunia 2026. Meski finis di dasar klasemen Grup G tanpa kemenangan, pelatih Darren Bazeley enggan menyesali penampilan anak asuhnya dan justru melihat sisi positif dari petualangan ini.
Dalam konferensi pers usai laga, Bazeley mengakui bahwa timnya sebenarnya memiliki peluang untuk bersaing di dua pertandingan pertama. Sempat unggul atas Iran sebelum ditahan imbang 2-2, dan memimpin lebih dulu melawan Mesir sebelum akhirnya kalah 3-1, Kiwi gagal mengonversi momen-momen krusial menjadi poin. “Kami tahu Belgia akan menjadi lawan terberat, dan kami berharap bisa mengumpulkan poin dari dua laga awal. Sayangnya, kami tidak memanfaatkannya,” ujar Bazeley.
Semangat pantang menyerah diperlihatkan Selandia Baru meski tertinggal 2-0 dari Belgia. Elijah Just, yang mencetak gol hiburan ketiganya di turnamen ini, sempat memperkecil ketertinggalan. Namun, Belgia yang lebih berpengalaman dan efisien di lini depan mampu menambah dua gol tambahan di menit-menit akhir untuk memastikan kemenangan telak. “Kami tidak ingin pulang hanya dengan bertahan dan kalah 2-0. Kami mencoba menyerang, tetapi akhirnya dihukum,” tambah Bazeley.
Bazeley menekankan bahwa sebagian besar pemainnya masih muda dan berpotensi tampil di Piala Dunia mendatang. “Mereka akan belajar dari pengalaman ini. Ini menyakitkan, dan memang seharusnya begitu karena kita di Piala Dunia dan harus pulang. Tapi rasa sakit ini akan membuat mereka lebih baik,” katanya. Ia optimistis skuad ini memiliki masa depan cerah, baik di level klub maupun bersama tim nasional.
Striker veteran Chris Wood, yang juga tampil di Piala Dunia 2010, melihat adanya peningkatan kualitas tim sejak ia bergabung. “Kami ingin selalu melawan tim-tim terbaik karena itulah cara kami berkembang. Kami sudah menunjukkan itu melawan Mesir dan Iran. Sayangnya, level kami belum cukup untuk Belgia,” ujar Wood. Ia mendorong rekan-rekannya untuk bermain di liga-liga besar Eropa agar pengalaman dan kualitas mereka meningkat.
Bagi Indonesia, perjalanan Selandia Baru ini bisa menjadi cermin. Timnas Garuda yang tengah berjuang menembus Piala Dunia juga perlu membangun fondasi dari kompetisi domestik yang kuat dan keberanian pemainnya merantau ke luar negeri. Pengalaman Selandia Baru menunjukkan bahwa meski kalah, eksposur melawan raksasa dunia adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai.
Ke depan, tantangan bagi Selandia Baru adalah mempertahankan generasi emas ini dan memastikan mereka terus berkembang. Akankah mereka mampu lolos ke Piala Dunia 2030 dan akhirnya meraih kemenangan perdana? Waktu yang akan menjawab, namun benih-benih kebangkitan sudah mulai terlihat.



