Nottingham Forest Rekrut Bek Tangguh Ousmane Diomande dari Sporting, Sinyal Ambisi Baru di Premier League
Baca dalam 60 detik
- Nottingham Forest resmi mengamankan jasa bek tengah Pantai Gading, Ousmane Diomande, dari Sporting Lisbon dengan nilai transfer mencapai 40 juta euro.
- Diomande, yang telah memenangkan dua gelar liga Portugal, diharapkan menjadi pilar pertahanan Forest yang musim lalu nyaris terdegradasi.
- Kedatangan pemain berusia 22 tahun ini menandai langkah agresif Forest di bursa transfer setelah menunjuk pelatih baru Oliver Glasner.

Nottingham Forest resmi mengumumkan perekrutan bek tengah asal Pantai Gading, Ousmane Diomande, dari Sporting Lisbon dengan kontrak berdurasi empat tahun plus opsi perpanjangan satu musim. Langkah ini menjadi sinyal kuat ambisi The Tricky Trees untuk bangkit di Premier League musim 2025/2026 setelah musim lalu hanya finis di peringkat ke-16.
Sporting Lisbon mengonfirmasi nilai transfer pemain berusia 22 tahun tersebut mencapai sekitar 40 juta euro atau setara Rp690 miliar. Angka tersebut menjadikan Diomande sebagai salah satu pembelian termahal dalam sejarah Nottingham Forest, menunjukkan keseriusan klub dalam memperkuat lini pertahanan yang musim lalu menjadi salah satu yang paling rapuh di liga.
Diomande bukan nama asing di kancah sepak bola Eropa. Produk akademi Midtjylland asal Denmark ini bergabung dengan Sporting pada 2023 dan dengan cepat menjadi pilar utama. Selama dua musim di Lisbon, ia mencatatkan 132 penampilan di semua kompetisi, membantu tim meraih gelar juara Primeira Liga dua musim beruntun (2023-24 dan 2024-25) serta Piala Portugal 2024-25. Prestasi tersebut menunjukkan mentalitas juara yang diharapkan dapat ditularkannya di ruang ganti Forest.
Kepala Petugas Sepak Bola Nottingham Forest, George Syrianos, dalam pernyataan resminya menilai Diomande sebagai bek yang kuat dan memiliki kemampuan memimpin. "Ousmane adalah bek yang tangguh dan dominan, datang dengan mentalitas pemenang. Ia memiliki ambisi yang sama dengan kami, dan kami sangat antusias melihat dampaknya di lapangan," ujarnya. Pujian tersebut menegaskan ekspektasi tinggi klub terhadap pemain yang juga memperkuat Pantai Gading di Piala Dunia 2025, meski timnya harus tersingkir di babak 32 besar oleh Norwegia.
Langkah Forest merekrut Diomande tidak lepas dari perubahan besar di tubuh klub. Pada Juli lalu, mereka menunjuk Oliver Glasner, pelatih asal Austria, sebagai manajer baru. Glasner dikenal dengan pendekatan taktis yang disiplin dan kemampuan membangun tim yang solid. Kedatangan Diomande diyakini menjadi fondasi utama dalam skema pertahanan yang ingin dibangun Glasner menjelang musim baru. Forest dijadwalkan memulai kampanye liga dengan menjamu Leeds United pada 22 Agustus mendatang.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pergerakan Forest ini menarik untuk disimak. Premier League selalu menjadi liga dengan penggemar terbanyak di Indonesia, dan kebijakan transfer klub-klub papan tengah seperti Forest sering kali menjadi barometer persaingan. Kehadiran pemain Afrika seperti Diomande juga memperkaya warna liga, mengingat banyak pemain Afrika yang sukses di Inggris, seperti Mohamed Salah dan Sadio Mane. Selain itu, performa Diomande di Piala Dunia 2025, meski timnya tersingkir, menunjukkan bahwa pemain dari benua Afrika semakin diperhitungkan di panggung global.
Dengan perombakan besar yang dilakukan Forest, pertanyaan besarnya adalah apakah Diomande mampu beradaptasi dengan cepat dengan kerasnya Premier League. Pengalamannya di liga Portugal yang kompetitif menjadi modal berharga, namun tantangan fisik dan intensitas di Inggris berbeda level. Jika Diomande berhasil tampil konsisten, bukan tidak mungkin Forest akan menjadi kejutan musim ini dan bersaing di papan tengah atas. Sebaliknya, jika gagal beradaptasi, investasi besar ini bisa menjadi bumerang bagi klub yang tengah berbenah.
Musim 2025/2026 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ambisi Forest. Dengan pelatih baru, pemain bintang baru, dan dukungan penuh dari manajemen, apakah The Tricky Trees mampu mengulang kejayaan era 1990-an? Atau justru akan kembali terpuruk? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun langkah berani ini setidaknya menunjukkan bahwa Forest tidak ingin sekadar menjadi penghuni papan bawah.



