Dolar AS Bertahan di Tengah Penantian Data Inflasi, Pasar Bersiap Arah Kebijakan The Fed
Baca dalam 60 detik
- Pasar mata uang global bergerak hati-hati menjelang rilis data inflasi AS yang dapat mengubah ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
- Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi 48% setelah data tenaga kerja AS mengecewakan, namun kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi.
- Yen Jepang masih tertekan meski ada intervensi, sementara dolar Australia menguat setelah bank sentralnya mempertahankan suku bunga.

Pasar valuta asing bergerak tenang pada Selasa (11/8) waktu setempat, dengan dolar AS bertahan stabil di tengah antisipasi pasar terhadap rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat untuk Juli yang dijadwalkan keluar esok hari. Angka inflasi ini dinilai akan menjadi penentu utama arah kebijakan moneter Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan, sekaligus menguji keyakinan pasar terhadap skenario penurunan suku bunga.
Ekspektasi pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada September sempat menguat setelah laporan ketenagakerjaan Jumat lalu menunjukkan adanya pemutusan hubungan kerja yang tak terduga. Namun, ketidakpastian kembali muncul seiring kenaikan harga minyak mentah yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, yang berpotensi mendorong kembali tekanan inflasi.
Menurut Eric Theoret, ahli strategi mata uang di Scotiabank, selama tren disinflasi masih berlanjut, sulit untuk membenarkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Namun, ia juga mengingatkan bahwa jika inflasi kembali menunjukkan aksi, maka narasi pengetatan moneter bisa kembali menguat.
Data terbaru dari CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September kini hanya 48%, turun dari 58% pekan sebelumnya. Angka ini mencerminkan perubahan sentimen yang signifikan di kalangan trader, yang sebelumnya cukup yakin akan adanya pengetatan.
Di sisi lain, harga minyak mentah sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan terakhir sebelum akhirnya memangkas sebagian kenaikannya. Hal ini terjadi setelah ada tanda-tanda kemajuan negosiasi antara Oman dan Iran mengenai pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, meskipun gangguan pasokan energi dari Timur Tengah masih berlanjut. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menuntut kompensasi dari Iran atas korban jiwa dalam berbagai konflik justru berpotensi memperumit upaya pembukaan kembali selat tersebut.
Di kawasan Asia, yen Jepang masih menjadi sorotan. Meskipun pemerintah Jepang dan AS telah melakukan intervensi terkoordinasi bulan lalu untuk menopang yen yang sempat jatuh ke level terendah dalam 40 tahun, mata uang tersebut masih belum pulih secara fundamental. Para analis menilai yen akan terus tertekan sampai ada perbaikan fundamental ekonomi dan Bank of Japan (BoJ) kembali menaikkan suku bunga. Theoret menggambarkan situasi ini sebagai "show-me" โ pasar menunggu bukti nyata sebelum mengubah posisi.
Sementara itu, Reserve Bank of Australia (RBA) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 4,35%, sesuai perkiraan pasar. Namun, bank sentral tersebut memberi peringatan bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan untuk mengendalikan inflasi yang dipicu oleh melonjaknya biaya energi. Sejak Februari, RBA telah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin. Dolar Australia merespons positif dengan menguat 0,18% ke level $0,7065 terhadap dolar AS.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang perlu dicermati. Penguatan dolar AS yang berkepanjangan dapat menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan beban impor, terutama untuk komoditas energi. Di sisi lain, jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga, hal itu dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneternya, yang berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Namun, ketidakpastian global masih menjadi faktor yang harus diwaspadai.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi AS yang akan dirilis besok. Jika angka inflasi menunjukkan penurunan yang signifikan, maka ekspektasi penurunan suku bunga akan semakin kuat, yang dapat melemahkan dolar AS. Sebaliknya, jika inflasi kembali meningkat, maka dolar AS berpotensi menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pertanyaannya, apakah The Fed akan berani mengambil langkah akomodatif di tengah tekanan harga yang belum sepenuhnya mereda?



