Kisah Cape Verde di Piala Dunia: Bukti Nyata Sepak Bola Milik Semua
Baca dalam 60 detik
- Cape Verde, negara kepulauan berpenduduk 500.000 jiwa, lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah tiga kali imbang di fase grup.
- Perjalanan mereka menjadi simbol keberhasilan format baru turnamen yang memberi ruang bagi negara kecil untuk bersaing dengan elit sepak bola.
- Laga melawan Argentina di Miami pada 3 Juli akan menjadi ujian terberat, namun semangat 'apa pun mungkin' terus dikumandangkan.

Gempuran sorak sorai menggema di Stadion Houston saat pemain Cape Verde berkerumun di sekitar satu ponsel, menyaksikan detik-detik akhir kemenangan Spanyol atas Uruguay yang memastikan langkah mereka ke babak gugur. Momen itu bukan sekadar euforia tim kecil, melainkan jawaban atas pertanyaan besar: apakah perluasan Piala Dunia benar-benar memberi dampak bagi negara-negara non-elit?
Cape Verde, negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat dengan populasi sekitar setengah juta jiwa, sukses melaju ke babak 32 besar setelah bermain imbang 0-0 melawan Arab Saudi pada Jumat (26/6). Hasil itu menempatkan mereka di peringkat kedua Grup H, mengantarkan tiket menghadapi juara bertahan Argentina di Miami pada 3 Juli mendatang. Perjalanan yang terbilang ajaib—terutama karena mereka melakukannya tanpa sekali pun merasakan kemenangan.
Pelatih Cape Verde, Bubista, dalam konferensi pers sebelum laga melawan Arab Saudi menegaskan bahwa Piala Dunia bukanlah milik negara-negara kaya sepak bola semata. "Turnamen ini untuk semua bangsa, bukan hanya untuk elit," ujarnya. Pernyataan itu sejalan dengan visi FIFA yang memperluas jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim—sebuah langkah kontroversial yang kini mendapat bukti empiris melalui kisah Cape Verde.
Gelandang Deroy Duarte, yang dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam laga penentu, mengaku masih sulit percaya. "Jujur, ini gila. Rasanya seperti mimpi. Sejak kecil saya selalu bermimpi bermain di Piala Dunia. Menjadi man of the match dan membuat sejarah adalah sesuatu yang tak pernah saya bayangkan," katanya dengan mata berkaca-kaca. Duarte juga menegaskan bahwa timnya tidak akan gentar menghadapi Lionel Messi dkk. "Melawan Argentina? Pertandingan berat, tapi mari percaya. Apa pun mungkin terjadi."
Bagi Indonesia, kisah Cape Verde memberikan pelajaran berharga. Dengan jumlah penduduk yang tidak jauh berbeda—atau bahkan lebih kecil dari beberapa kota di Tanah Air—Cape Verde membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya bukanlah halangan untuk bersaing di panggung tertinggi. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) bisa mencontoh pendekatan Cape Verde yang mengandalkan pemain diaspora dan pembinaan usia dini yang konsisten, meski tanpa infrastruktur megah. Jika negara pulau kecil ini mampu, mengapa Indonesia yang berpenduduk 270 juta jiwa tidak?
"Pertama, mari rayakan. Kami sangat bahagia. Semoga semua warga Cape Verde juga bahagia. Mulai besok, kami akan fokus pada pertandingan berikutnya. Melawan Argentina? Pertandingan berat, tapi mari percaya. Apa pun mungkin terjadi." — Deroy Duarte, gelandang Cape Verde
Pertandingan melawan Argentina pada 3 Juli nanti akan menjadi ujian terberat. Namun, apa pun hasilnya, Cape Verde telah menorehkan cerita yang akan dikenang lama. Mereka adalah bukti bahwa sepak bola, pada hakikatnya, adalah olahraga yang memberi ruang bagi mimpi—bahkan bagi negara yang peta duniamya mungkin sulit ditemukan. Pertanyaan selanjutnya: akankah FIFA mempertahankan format 48 tim setelah turnamen ini, atau justru kembali ke format lama? Jawabannya mungkin bergantung pada seberapa banyak cerita seperti Cape Verde yang ingin didengar dunia.



