Bersatu Tak Gentar Tanpa Bantuan PAS di Pemilu Johor: Muhyiddin Yakin Kekuatan Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Presiden Bersatu, Muhyiddin Yassin, menegaskan partainya akan mengandalkan kekuatan sendiri setelah PAS memutuskan tidak berkampanye untuk kandidat Bersatu di pemilu negara bagian Johor.
- Keputusan PAS ini memicu spekulasi tentang keretakan dalam koalisi Perikatan Nasional, namun Muhyiddin menekankan prinsip saling mendukung tetap berlaku.
- Bersatu optimistis meraih suara berdasarkan rekam jejak dan kebijakan, sementara analis melihat potensi fragmentasi koalisi menjelang pemilu.

Presiden Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu), Muhyiddin Yassin, dengan tegas menyatakan bahwa partainya tidak akan bergantung pada bantuan Partai Islam Se-Malaysia (PAS) dalam kampanye pemilihan negara bagian Johor. Sikap ini muncul setelah PAS memutuskan untuk tidak mengerahkan mesin politiknya mendukung calon-calon Bersatu di pesta demokrasi tersebut.
"Itu tidak masalah. Saya tidak meminta siapa pun untuk membantu kami berkampanye," ujar Muhyiddin kepada wartawan di Pagoh, Sabtu (27/6). Pernyataan ini disampaikan usai mendampingi calon Bersatu untuk Bukit Kepong, mantan Menteri Besar Johor, Datuk Dr Sahruddin Jamal, ke pusat pencalonan di Kompleks Olahraga Pagoh.
Keputusan PAS untuk menarik diri dari kampanye Bersatu memicu spekulasi tentang retaknya hubungan dalam koalisi Perikatan Nasional (PN). Meski demikian, Muhyiddin menegaskan bahwa partainya akan terus bekerja keras berdasarkan kekuatan sendiri, kebijakan, serta rekam jejak yang telah dibangun selama ini. "Siapa pun yang ingin membantu dipersilakan. Pada prinsipnya, partai-partai dalam PN harus saling mendukung. Namun jika mereka memilih tidak, kami menerimanya," katanya.
Ketika ditanggapi pernyataan Barisan Nasional (BN) bahwa PN tidak ambisius membentuk pemerintahan karena hanya bertarung di 33 kursi, Muhyiddin menepis anggapan tersebut. Ia menekankan bahwa fokus PN adalah meraih dukungan pemilih. "Yang penting adalah pilihan yang dibuat oleh pemilih, dan mereka tahu apa yang kami perjuangkan," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa partai-partai sahabat lain juga ikut bertarung, sehingga total kursi yang diperebutkan PN sebenarnya lebih dari setengah.
Mengenai kemungkinan terbentuknya pemerintahan koalisi jika tidak ada partai yang meraih mayoritas sederhana, Muhyiddin enggan berspekulasi. "Saya bukan peramal. Itu tergantung pada hasil pemilu. Seperti yang pernah kita lihat sebelumnya, ketika terjadi hung assembly, partai-partai terkait harus berdiskusi bagaimana membentuk pemerintahan," katanya.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika politik Malaysia ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks koalisi partai politik yang kerap rapuh. Keputusan PAS tidak mendukung Bersatu secara terbuka mengingatkan pada potensi konflik internal dalam koalisi pemerintahan di Indonesia, seperti yang pernah terjadi di era Reformasi. Fragmentasi koalisi dapat mempengaruhi stabilitas pemerintahan dan kebijakan publik, termasuk di bidang ekonomi dan investasi. Investor asing, termasuk dari Indonesia, biasanya waspada terhadap ketidakpastian politik yang dapat mengganggu iklim bisnis.
Komisi Pemilihan Umum Malaysia sebelumnya mengonfirmasi pertarungan tiga calon untuk kursi Bukit Kepong. Mantan Menteri Besar Sahruddin akan berhadapan dengan calon Pakatan Harapan, C. Subramani, dan calon Barisan Nasional, Ahmad Syar'e Yusof. Pertarungan ini menjadi salah satu barometer kekuatan partai-partai di Johor.
Ke depan, keputusan PAS ini bisa menjadi preseden bagi hubungan antarpartai dalam PN. Apakah ini awal dari perpecahan yang lebih besar, atau justru menjadi katalis bagi Bersatu untuk membuktikan kemandiriannya? Hasil pemilu Johor akan memberikan jawaban awal, namun dampaknya terhadap peta politik Malaysia secara nasional patut terus dipantau.



