De Zerbi: Mentalitas, Bukan Sekadar Belanja Pemain, Kunci Kebangkitan Tottenham
Baca dalam 60 detik
- Manajer Tottenham Roberto De Zerbi menilai kebangkitan tim tidak cukup hanya lewat belanja pemain, melainkan harus dibangun dari fondasi mentalitas dan semangat kolektif.
- Setelah dua musim nyaris terdegradasi, Spurs kini membidik papan atas Premier League dengan perombakan skuad besar-besaran, namun De Zerbi mengingatkan bahwa kualitas individu belumlah cukup.
- Laga pembuka melawan Brentford pada 22 Agustus akan menjadi ujian awal sejauh mana transformasi mental dan strategi baru Tottenham mampu bersaing dengan tim-tim elite.

Manajer Tottenham Hotspur, Roberto De Zerbi, menegaskan bahwa kebangkitan timnya dari keterpurukan dua musim terakhir tidak akan ditentukan oleh deretan rekrutan anyar, melainkan oleh pemulihan jiwa dan mentalitas bertanding. Pelatih asal Italia itu mengambil alih kursi kepelatihan pada Maret lalu dan berhasil membawa Spurs keluar dari zona merah, finis satu strip di atas garis degradasi.
Meski bursa transfer musim panas ini berjalan sibuk dengan kedatangan Sandro Tonali, Mateus Fernandes, Jan Paul van Hecke, Andy Robertson, Marcos Senesi, Cole Ramsey, dan Martin Dubravka, De Zerbi menilai belanja pemain hanyalah satu sisi dari teka-teki. "Di bursa transfer, kami belum selesai. Kami menatap musim baru dengan ambisi dan target yang berbeda," ujarnya dalam kanal YouTube Men in Blazers, Senin (11/8).
Bagi De Zerbi, membangun tim yang kompetitif di papan atas Premier League menuntut lebih dari sekadar kualitas teknis. Ia menekankan pentingnya "jiwa, semangat, dan mentalitas" sebagai fondasi sebelum berbicara tentang taktik atau strategi. "Saya biasanya memikirkan jiwa, gairah, semangat, dan mentalitas tim, lalu peningkatan yang bisa kami lakukan ke depan. Saya tidak bisa hanya fokus pada masa kini," kata pelatih berusia 47 tahun itu.
Filosofi ini lahir dari pengalamannya menangani klub-klub seperti Brighton, di mana ia dikenal dengan pendekatan berbasis penguasaan bola namun tetap mengedepankan identitas kolektif. Di Tottenham, ia ingin para pendukung mengenali timnya bukan hanya dari gaya bermain, tetapi juga dari komitmen dan karakter yang ditunjukkan di lapangan. "Saya ingin ketika kami bermain di Premier League, orang-orang mengenali jiwa, semangat, dan nilai dari para pemain," tegasnya.
De Zerbi juga menggarisbawahi bahwa persaingan dengan tim-tim papan atas dunia tidak bisa dimenangkan hanya dengan mengandalkan bakat individu. "Kualitas pemain saja tidak cukup. Jika Anda tidak memberikan sesuatu yang lebih, sesuatu dari diri Anda sendiri, sesuatu yang Anda rasakan di dalam hati, sangat sulit untuk bersaing dengan tim-tim terbaik di dunia," ujarnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pernyataan De Zerbi ini relevan dengan dinamika klub-klub besar Eropa yang kerap terjebak dalam siklus belanja pemain mahal tanpa membangun budaya tim yang kuat. Di tengah gempuran finansial Liga Inggris, pendekatan yang mengedepankan mentalitas bisa menjadi pembeda, sekaligus pelajaran bagi pengembangan sepak bola nasional yang sedang giat membenahi pembinaan usia muda.
Dengan laga pembuka melawan Brentford yang tinggal menghitung hari, publik Tottenham tentu menantikan apakah transformasi yang dijanjikan De Zerbi benar-benar terlihat di lapangan. Pertanyaan besarnya, mampukah Spurs keluar dari bayang-bayang mediokritas dan kembali bersaing di papan atas? Atau justru mentalitas yang ia bicarakan hanya menjadi retorika belaka?



