Kibarkan Merah Putih di Paniai, Marinir dan Warga Papua Satukan Semangat Menuju 17 Agustus
Baca dalam 60 detik
- Satgas Pamtas Mobile RI-PNG Yonif 2 Marinir bersama pemuda Kampung Komopa menggelar upacara bendera di kawasan perbukitan Paniai, Papua Tengah, sebagai simbol persatuan menjelang HUT ke-80 RI.
- Aksi ini menegaskan pendekatan kultural TNI dalam merawat nasionalisme di daerah rawan perbatasan, sekaligus memperkuat ikatan sosial antara aparat dan masyarakat sipil.
- Ke depan, kolaborasi serupa berpotensi direplikasi di titik-titik terpencil lain sebagai strategi membangun ketahanan bangsa dari akar rumput.

Menjelang peringatan kemerdekaan ke-80, personel Satgas Pamtas Mobile RI-PNG Yonif 2 Marinir bersama warga Kampung Komopa, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, menggelar pengibaran bendera Merah Putih di puncak perbukitan pada Senin (10/8). Aksi simbolis ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya konkret merawat rasa kebangsaan di tengah kompleksitas sosial kawasan timur Indonesia.
Komandan Satgas Yonif 2 Marinir, Letkol Marinir Helilintar Setiojoyo Laksono, menyebut kegiatan ini lahir dari gotong royong prajurit dan pemuda setempat, mulai dari menyiapkan tiang hingga menaikkan Sang Saka di ketinggian. Menurutnya, proses kebersamaan itu justru menjadi inti pesan yang ingin disampaikan: persatuan tidak diukur dari besar kecilnya acara, melainkan dari kesediaan bahu-membahu.
Pemilihan lokasi di Kampung Komopa bukan tanpa alasan. Kawasan ini berada di wilayah yang selama ini menjadi perhatian karena dinamika sosial dan kedekatannya dengan perbatasan. Dengan melibatkan warga secara langsung, TNI tidak hanya hadir sebagai alat negara, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang turut merayakan denyut kebangsaan. Ini sejalan dengan doktrin kewilayahan yang menempatkan kemanunggalan TNI-rakyat sebagai fondasi pertahanan.
Dari sudut pandang yang lebih luas, kegiatan semacam ini mengirim sinyal bahwa pendekatan keamanan di Papua tidak melulu berwajah keras. Kehadiran negara melalui simbol-simbol kultural seperti pengibaran bendera justru dianggap lebih membumi dan mampu menyentuh emosi kolektif warga. Hal ini penting mengingat isu nasionalisme di daerah timur kerap menjadi sorotan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Harapan yang disematkan oleh Letkol Laksono agar momen ini menjadi pemantik kecintaan pada tanah air bagi masyarakat sekitar tampaknya tidak berlebihan. Di tengah arus informasi yang kian deras, simbol-simbol fisik seperti bendera justru menjadi pengingat yang kuat akan identitas bersama. Apalagi, kegiatan ini juga diarahkan untuk mempererat hubungan TNI dan warga, sehingga tercipta kesatuan semangat yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga fungsional dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi pembaca di Indonesia, aksi ini merefleksikan bagaimana negara hadir di titik-titik yang sering luput dari perhatian. Di saat sebagian besar perhatian tertuju pada pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa, kegiatan seperti ini mengingatkan bahwa menjaga keutuhan bangsa juga berarti hadir secara kultural di daerah terpencil. Ini sekaligus menjadi jawaban atas kritik yang kerap dialamatkan pada pendekatan keamanan yang terlalu militeristik.
"Dari Kampung Komopa, Merah Putih berkibar membawa pesan satu tiang, satu semangat, satu Indonesia," ujar Letkol Marinir Helilintar Setiojoyo Laksono.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah apakah simbol-simbol kebangsaan semacam ini akan cukup untuk meredam potensi gesekan sosial yang masih sesekali terjadi di Papua? Jawabannya mungkin tidak sederhana, tetapi langkah kecil yang dilakukan di Paniai ini setidaknya membuka ruang dialog yang lebih manusiawi. Jika konsisten dilakukan, bukan tidak mungkin pola pendekatan ini menjadi template bagi operasi kewilayahan lain di Indonesia Timur.



