Cape Verde Cetak Sejarah di Piala Dunia 2026, Tantang Argentina di Babak 32 Besar
Baca dalam 60 detik
- Cape Verde menjadi negara terkecil yang lolos ke fase gugur Piala Dunia setelah finis sebagai runner-up Grup H.
- Keberhasilan ini didorong oleh strategi federasi merekrut pemain diaspora, dengan 14 dari 26 pemain lahir di luar negeri.
- Laga melawan Argentina di Miami pada Jumat mendatang akan menjadi ujian terbesar bagi tim asuhan Bubista.

Kepulauan Cape Verde, negara dengan populasi hanya 525.000 jiwa, mencatatkan namanya dalam buku sejarah Piala Dunia 2026 setelah menjadi negara terkecil yang berhasil menembus babak knockout pada debut mereka. Tim berjuluk Hiu Biru itu dipastikan melaju ke babak 32 besar sebagai runner-up Grup H setelah hasil imbang tanpa gol melawan Arab Saudi dan kemenangan Spanyol atas Uruguay memastikan posisi mereka.
Momen dramatis terjadi saat para pemain Cape Verde berkumpul di lapangan Houston, menunggu hasil pertandingan Spanyol-Uruguay melalui ponsel. Begitu peluit panjang berbunyi, air mata kebahagiaan pun mengalir. "Itu adalah momen paling indah di Piala Dunia sejauh ini," ujar komentator BBC Radio 5 Live, Rob Law, yang menyaksikan langsung euforia tersebut. Perjalanan Cape Verde sendiri terbilang spektakuler: mereka menahan imbang Spanyol tanpa gol berkat penampilan gemilang kiper veteran Vozinha (40 tahun), lalu bermain 2-2 melawan Uruguay, dua kali juara dunia.
Kunci sukses Cape Verde terletak pada strategi federasi sepak bola mereka (FCF) yang secara agresif merekrut pemain dari diaspora. Ikatan sejarah dengan Portugal dan komunitas besar di Rotterdam menjadi ladang bakat. Salah satunya, Dailon Livramento, menjadi pahlawan kualifikasi dengan gol tunggal ke gawang Kamerun. Bek Roberto Lopes, yang direkrut melalui LinkedIn pada 2019, menegaskan bahwa tim ini memiliki kepercayaan diri untuk bersaing dengan negara-negara besar. "Sejak saya bergabung, sudah ada rencana berkelanjutan untuk membawa Cape Verde ke meja utama sepak bola dunia," katanya.
Pelatih Bubista, yang menjabat sejak Januari 2020, berhasil membangun tim yang kompak dan disiplin. Di Piala Afrika 2023, mereka mencapai perempat final โ hanya satu dekade setelah debut turnamen. Filosofi "bermain sebagai satu kesatuan" menjadi identitas mereka. Bek Sidny Lopes Cabral menambahkan, "Kami berlatih dan bermain sebagai satu unit. Ini adalah kepribadian kami."
Kesuksesan Cape Verde juga membungkam kritikus yang meragukan perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim. Mantan bek Manchester United, Gary Neville, menilai bahwa momen seperti inilah yang membuat turnamen semakin istimewa. "Negara dengan 500.000 orang bisa mencapai fase knockout, sementara Uruguay yang besar tersingkir. Luar biasa," ujarnya.
Kini, Cape Verde harus bersiap menghadapi tantangan terbesar: Argentina, juara bertahan yang diperkuat Lionel Messi, di Miami pada Jumat mendatang. Gelandang Deroy Duarte, yang terpilih sebagai pemain terbaik saat melawan Arab Saudi, mengaku masih seperti mimpi. "Pertama, mari rayakan. Tapi mulai besok, kami fokus ke Argentina. Semua mungkin terjadi," ujarnya penuh semangat.
Bagi Indonesia, kisah Cape Verde memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya memanfaatkan diaspora dan konsistensi pembinaan. Dengan populasi yang jauh lebih besar, bukan tidak mungkin suatu hari nanti Garuda bisa mengikuti jejak Hiu Biru โ asalkan ada perencanaan matang dan keberanian untuk bermimpi besar.



