Pemain Muda Bosnia dan Maroko Melesat di FIFA Power Rankings Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Remaja Bosnia Kerim Alajbegovic melonjak 276 peringkat ke posisi 23 dalam kategori Attacking setelah gol spektakuler ke gawang Qatar.
- Gelandang Maroko Bilal El Khannouss naik 351 tempat ke peringkat 24 dalam Creativity berkat umpan-umpan progresif saat comeback melawan Haiti.
- Nicolas Pepe dari Pantai Gading mendorong timnya ke fase gugur untuk pertama kalinya, naik 137 peringkat ke posisi 19 dalam Attacking.

Pemain muda Bosnia dan Herzegovina, Kerim Alajbegovic, menjadi salah satu bintang baru yang bersinar di FIFA World Cup 2026 setelah penampilannya yang memukau membawa negaranya lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya. Dalam pembaruan terkini FIFA Power Rankings yang dirilis hari ini, Alajbegovic melesat 276 peringkat ke posisi 23 dalam kategori Attacking, sementara gelandang Maroko Bilal El Khannouss mencatat kenaikan tertinggi di kategori Creativity dengan lonjakan 351 tempat.
FIFA Power Rankings, yang didukung oleh Aramco, menggunakan analitik canggih untuk mengukur kontribusi pemain dalam tiga kategori: Attacking, Creativity, dan Defending. Pembaruan ini mencakup pertandingan hingga kemenangan Turki atas Amerika Serikat dan hasil imbang Australia melawan Paraguay. Selain Alajbegovic dan El Khannouss, pemain Pantai Gading Nicolas Pepe dan Guela Doue juga mencatat kenaikan signifikan, begitu pula bek Kanada Alistair Johnston.
Alajbegovic, yang baru berusia 18 tahun, menjadi sorotan setelah mencetak gol jarak jauh yang spektakuler saat Bosnia mengalahkan Qatar. Gol tersebut menjadikannya pemain termuda kedelapan yang mencetak gol di Piala Dunia dan yang termuda yang mencetak gol dari luar kotak penalti. Pemain yang akan bergabung dengan Bayer Leverkusen ini juga menunjukkan kemampuan kreatifnya dengan naik 25 peringkat ke posisi 7 dalam Creativity, dengan skor 7,15. Penampilannya yang lengkap, termasuk kerja sama dengan Sead Kolasinac dan 11 kali menggiring bola melewati lawan, membuat Bosnia tampil berbahaya sepanjang pertandingan.
Sementara itu, El Khannouss menjadi arsitek kebangkitan Maroko saat mengalahkan Haiti 4-2. Gelandang Stuttgart itu mencatat 20 umpan progresif dan menjadi pemain teratas dalam memecah garis pertahanan lawan. Kemampuannya membaca celah di antara lini tengah dan pertahanan Haiti memungkinkan Maroko terus menekan dan menciptakan peluang berbahaya. Kenaikannya ke peringkat 24 dalam Creativity menunjukkan perannya yang vital dalam permainan menyerang timnya.
Nicolas Pepe menorehkan namanya dalam sejarah Pantai Gading dengan dua golnya ke gawang Curaรงao, membawa timnya lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya dalam empat kali partisipasi. Penyerang yang pernah membela Arsenal itu mencatat skor attacking tertinggi dalam pertandingan tersebut, dengan kedua gol tercipta dari permainan terbuka. Kenaikan 137 peringkat ke posisi 19 menegaskan kembali ketajamannya di panggung dunia. Rekan setimnya, Guela Doue, juga tampil impresif di lini belakang dengan catatan delapan kali merebut bola dan duel sempurna, naik 107 peringkat ke posisi 25 dalam Defending.
Di sisi lain, Qatar harus tersingkir setelah kalah 3-1 dari Bosnia, namun Akram Afif tampil sebagai kreator utama dengan 12 umpan progresif dan lima kali memecah garis pertahanan. Meski bermain di posisi penyerang tengah yang tidak biasa, pemain Al Sadd itu tetap menjadi ancaman konstan. Sementara itu, bek kanan Celtic Alistair Johnston menjadi salah satu pemain Kanada yang menonjol meski timnya kalah dari Swiss. Ia memenangkan lima duel udara dan merebut bola delapan kali, naik 103 peringkat ke posisi 39 dalam Defending.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, performa pemain-pemain muda seperti Alajbegovic dan El Khannouss bisa menjadi inspirasi. Dengan Piala Dunia 2026 yang semakin mendekat, munculnya bakat-bakat baru dari negara-negara non-unggulan menunjukkan bahwa turnamen ini selalu menyajikan kejutan. Pertanyaannya, akankah ada pemain Asia Tenggara yang mampu menembus jajaran elit FIFA Power Rankings di edisi mendatang?



