Amanda Koh, Desainer Grafis Asal Singapura, Sabet Emmy untuk Dokumenter Boston Red Sox
Baca dalam 60 detik
- Amanda Koh (37) menjadi orang Singapura ketiga yang meraih Emmy, setelah memenangkan kategori Outstanding Sports Graphic Design: Specialty untuk mini-seri dokumenter 'Believers: Boston Red Sox'.
- Karya Koh menonjol karena menggabungkan ikonografi religius dengan seni grafiti untuk merepresentasikan perjalanan emosional para penggemar setia Red Sox yang bertahun-tahun menderita kekalahan.
- Koh mendorong kreator muda untuk memanfaatkan media sosial sebagai panggung global, tanpa perlu menunggu izin untuk mulai berkarya.

Seorang kreator asal Singapura kembali menorehkan prestasi di panggung televisi internasional. Amanda Koh, direktur kreatif berusia 37 tahun, baru saja membawa pulang piala Emmy Sports ke-47 untuk kategori Desain Grafis Olahraga Terbaik: Spesialisasi, atas karyanya dalam mini-seri dokumenter Believers: Boston Red Sox. Penghargaan ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga simbol bahwa suara dan perspektif dari Asia Tenggara mulai mendapat tempat di industri hiburan global.
Koh, yang telah berkarier lebih dari satu dekade di Hollywood, memimpin arahan seni untuk grafik gerak dan desain judul dalam tiga episode seri tersebut. Dokumenter ini mengisahkan perjalanan tim bisbol Boston Red Sox meraih kemenangan bersejarah di World Series 2004, setelah puluhan tahun kegagalan. Yang membuat karyanya istimewa adalah pendekatan visual yang ia bangun sejak fase penulisan naskah.
Untuk menciptakan pengalaman imersif, tim Koh membangun ulang Stadion Fenway Park Boston dalam format 3D dengan latar awan bergaya lukis. Latar itu diproyeksikan di belakang para narasumber, termasuk aktor papan atas Matt Damon dan Ben Affleckโkeduanya penggemar berat Red Sox sejak kecil. Affleck juga bertindak sebagai produser eksekutif. "Mereka datang ke set dan berkata, 'Wow, ini keren sekali,'" kenang Koh. "Kami mencoba membangun lingkungan yang mendalam bagi para pemain dan penonton, karena sebagian dari seri ini adalah tentang bagaimana para penggemar bereaksi terhadap kekecewaan tahun demi tahun, sambil terus mendukung tim yang dianggap lemah."
Untuk menangkap perjalanan emosional para penggemar, Koh dan timnya memadukan ikonografi religius dengan seni grafiti. Perpaduan ini menghasilkan bahasa visual yang unik dan kuat. "Kami menggabungkan dua elemen ini, dan itu menjadi bahasa visual yang benar-benar luar biasa untuk dikerjakan," ujarnya.
Koh memulai pendidikannya di program desain media digital Nanyang Polytechnic Singapura sebelum merambah Hollywood. Ia mendirikan Morph & Muse, studio yang fokus pada desain judul, paket grafik acara, dan visual kampanye untuk film, televisi, dan merek. Baru-baru ini, ia mengerjakan urutan judul dan judul akhir untuk film By Any Means yang disutradarai Elegance Bratton, dibintangi Mark Wahlberg dan Yahya Abdul-Mateen II, yang dijadwalkan rilis September mendatang.
Bagi para kreator muda, Koh berpesan untuk merangkul perbedaan budaya sebagai kekuatan. "Jika Anda melihat ke dalam diri sendiri, terutama dari budaya dan perspektif yang berbeda, Anda menambahkan alat lain ke pisau Swiss Army Anda. Anda bisa menawarkan perspektif baru pada grafis, atau bahkan cara bercerita yang baru," katanya. Ia juga mendorong anak muda untuk tidak menunggu izin berkarya. "Mulailah membuat. Gunakan media sosial untuk keuntungan Anda, karena batas antar dunia sekarang jauh lebih kecil. Agar orang tahu apa yang bisa Anda ciptakan, Anda harus menunjukkannya. Mulailah membuat keajaiban, dan alam semesta akan menemukan Anda."
Keberhasilan Koh membuka peluang bagi lebih banyak kisah beragam dari Asia untuk dikenal dunia. Pertanyaannya, apakah industri kreatif Indonesia siap mengikuti jejak Singapura dengan mengirimkan talenta-talenta terbaiknya ke panggung internasional?



