Mongolia-Korea Selatan Perkuat Kerja Sama Pertahanan: Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Kabinet Mongolia menyetujui rancangan perjanjian pertahanan komprehensif dengan Korea Selatan pada 24 Juni, yang akan memperluas cakupan kerja sama militer kedua negara.
- Perjanjian ini mencakup kunjungan militer timbal balik, pelatihan personel, dan latihan bersama, menandai eskalasi signifikan dalam kemitraan strategis sejak 1999.
- Bagi Indonesia, penguatan aliansi di Asia Timur Laut ini berpotensi mempengaruhi dinamika keamanan regional dan membuka peluang kerja sama pertahanan trilateral.

Mongolia dan Korea Selatan bersiap menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan komprehensif yang akan memperdalam hubungan militer kedua negara. Langkah ini dinilai sebagai babak baru dalam kemitraan strategis yang telah terjalin lebih dari dua dekade.
Pada sidang kabinet 24 Juni lalu, pemerintah Mongolia secara resmi mengkaji dan menyetujui draf perjanjian kerja sama pertahanan dengan Korea Selatan. Setelah melalui diskusi, kabinet memutuskan untuk melanjutkan proses dengan berkonsultasi dengan komisi terkait di parlemen. Kesepakatan ini diharapkan segera difinalisasi dalam waktu dekat.
Perjanjian yang diperbarui ini dirancang untuk memfasilitasi kunjungan militer timbal balik dan konsultasi pertahanan di semua level komando. Selain itu, kerangka kerja baru ini juga akan meningkatkan pelatihan personel militer, mempererat hubungan antar akademi militer dan lembaga riset, serta membuka jalan bagi latihan militer bersama secara reguler.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama pertahanan Mongolia-Korea Selatan memiliki implikasi regional. Korea Selatan merupakan salah satu mitra utama Indonesia di bidang pertahanan, termasuk dalam pengembangan industri alutsista dan transfer teknologi. Sementara itu, Mongolia, meskipun tidak berbatasan langsung, memiliki peran penting dalam forum keamanan regional seperti ASEAN Regional Forum (ARF).
Menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Widjajanto, langkah ini menunjukkan bahwa Korea Selatan tengah memperluas jangkauan diplomasi pertahanannya di luar Semenanjung Korea. “Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk mendorong kerja sama trilateral, terutama dalam bidang pelatihan militer dan penanganan ancaman non-tradisional seperti terorisme dan keamanan siber,” ujarnya.
Perjanjian ini juga dipandang sebagai respons terhadap dinamika keamanan di Asia Timur Laut, termasuk ketegangan di Semenanjung Korea dan persaingan kekuatan besar. Mongolia, yang menganut kebijakan luar negeri netral, menjadi mitra ideal bagi Korea Selatan untuk memperkuat kehadirannya di kawasan tanpa memicu reaksi berlebihan dari China atau Rusia.
Ke depan, implementasi perjanjian ini akan diawasi ketat oleh negara-negara tetangga. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan ikut serta dalam latihan bersama yang direncanakan, atau justru memperkuat kerja sama bilateralnya sendiri dengan kedua negara?



