Lyntris Incar Valuasi US$2,5 Miliar di IPO New York, Sinyal Industri Pertahanan Menguat
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan teknologi pertahanan Lyntris menargetkan valuasi hingga US$2,53 miliar dalam penawaran umum perdana di bursa AS, dengan harga saham antara US$19-22 per lembar.
- Langkah ini mengikuti gelombang IPO sektor pertahanan sejak April, dipicu oleh meningkatnya permintaan akibat konflik geopolitik, termasuk perang AS-Israel di Iran.
- Pasca-IPO, Trive Capital akan mendistribusikan 69% sahamnya kepada mitra, mengindikasikan perubahan struktur kepemilikan yang signifikan bagi Lyntris.

Lyntris, perusahaan teknologi pertahanan yang berbasis di Falls Church, Virginia, menargetkan valuasi hingga US$2,53 miliar dalam penawaran umum perdana (IPO) di bursa Amerika Serikat. Langkah ini menjadi ujian terbaru bagi minat investor yang kuat terhadap emiten sektor pertahanan, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Dalam prospektus yang dirilis Senin (10/8), Lyntris bersama para pemegang sahamnya berencana melepas 24 juta saham dengan kisaran harga US$19 hingga US$22 per lembar, berpotensi mengumpulkan dana hingga US$528 juta. Perusahaan yang didukung oleh Trive Capital ini akan tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode ticker "LYNX".
Gelombang IPO perusahaan pertahanan memang sedang memanas. Sejak April lalu, setidaknya lima perusahaan sejenis—AEVEX, Arxis, HawkEye 360, Applied Aerospace & Defense, dan Doncasters—telah melantai di bursa New York. Lonjakan ini dipicu oleh konflik AS-Israel dengan Iran yang meningkatkan belanja militer dan permintaan teknologi pertahanan.
Lyntris sendiri merupakan hasil penggabungan dua portofolio Trive Capital, Accelint dan Vitesse, pada Mei lalu. Sejak 2018, perusahaan telah melakukan 12 akuisisi untuk memperkuat lini bisnisnya. Fokus utama Lyntris adalah memproduksi sensor medan perang dan perangkat lunak untuk militer AS serta sekutunya. Hingga 31 Desember, perusahaan terlibat dalam lebih dari 200 program pertahanan aktif, dengan kontribusi pendapatan dari satu program tidak lebih dari 7 persen—menunjukkan diversifikasi yang baik.
Secara finansial, Lyntris masih mencatatkan kerugian. Pada enam bulan pertama tahun ini, perusahaan membukukan rugi bersih US$13 juta dari pendapatan US$241 juta, lebih lebar dibanding rugi US$9,7 juta pada periode yang sama tahun lalu dengan pendapatan US$179,1 juta. Meski begitu, pertumbuhan pendapatan yang signifikan (naik sekitar 35 persen) menunjukkan ekspansi bisnis yang agresif.
Bagi Indonesia, fenomena ini menarik dicermati. Industri pertahanan dalam negeri tengah berupaya meningkatkan kemandirian alutsista, namun masih bergantung pada impor. Minat investor global pada perusahaan seperti Lyntris menunjukkan bahwa teknologi militer bernilai tinggi. Indonesia bisa belajar dari model akuisisi dan konsolidasi yang dilakukan Lyntris untuk memperkuat industri pertahanan nasional, terutama dalam pengembangan sensor dan perangkat lunak militer yang menjadi keunggulan perusahaan.
Setelah IPO, Trive Capital yang saat ini memegang 69 persen saham Lyntris berencana mendistribusikan seluruh kepemilikannya kepada mitra terbatas dan umum, sehingga tidak lagi mengendalikan perusahaan. Ini adalah langkah strategis yang umum dilakukan perusahaan ekuitas swasta untuk merealisasikan keuntungan.
Dengan dukungan penjamin emisi Evercore ISI, Citigroup, dan Guggenheim Securities, IPO Lyntris dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Keberhasilannya akan menjadi indikator penting bagi perusahaan pertahanan lain yang berniat melantai. Apakah tren ini akan berlanjut seiring meredanya ketegangan geopolitik? Atau justru semakin menguat karena negara-negara terus memodernisasi militernya? Jawabannya akan menentukan arah industri pertahanan global dalam beberapa tahun ke depan.



