Aktor Harry Potter TV Bela Komunitas Trans: 'Mereka Berhak atas Keamanan dan Martabat'
Baca dalam 60 detik
- Bel Powley, pemeran Petunia Dursley di serial Harry Potter, secara terbuka menolak pandangan J.K. Rowling soal gender.
- Kontroversi ini menambah daftar panjang perbedaan sikap di antara para pemain serial yang akan tayang Desember mendatang.
- Langkah Powley dan Lithgow menunjukkan bahwa karya seni dapat dipisahkan dari ideologi penciptanya, sebuah dilema yang juga relevan di industri kreatif Indonesia.

Bel Powley, aktris yang akan memerankan Petunia Dursley dalam serial televisi Harry Potter, dengan tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pandangan J.K. Rowling mengenai hak-hak transgender. Dalam wawancara dengan The Daily Telegraph, Powley menegaskan bahwa komunitas transgender layak mendapatkan keamanan, martabat, rasa hormat, dan penerimaan penuh. Pernyataan ini muncul di tengah kontroversi yang terus membayangi produksi serial yang dijadwalkan tayang pada Desember mendatang.
Powley, yang tumbuh sebagai pembaca generasi pertama novel Harry Potter, mengaku kecintaannya pada kisah sihir itu mengalahkan kekhawatirannya untuk dikaitkan dengan sikap kontroversial Rowling. "Saya sangat tidak setuju dengan pandangan J.K. Rowling tentang gender," ujarnya. "Tetapi, saya cinta Harry Potter. Saya tumbuh dengan buku-buku itu. Saya dari generasi pertama pembaca, dan sekali lagi, saya suka sihir dan nuansa misteriusnya." Pernyataan ini menunjukkan upaya untuk memisahkan karya dari penciptanya, sebuah dilema yang kerap dihadapi para penggemar dan profesional kreatif.
Powley bukanlah satu-satunya pemeran yang angkat bicara. John Lithgow, yang akan memerankan Albus Dumbledore, sebelumnya menyebut pandangan Rowling sebagai "ironis dan tak dapat dijelaskan" dalam wawancara di Festival Film Rotterdam. Aktor berusia 80 tahun itu mengaku mendapat tekanan dari berbagai pihak untuk mundur dari proyek karena keterkaitannya dengan Rowling. Namun, Lithgow memilih bertahan karena menilai kanon Potter sarat dengan pesan kebaikan dan penerimaan. "Dalam kanon Potter, tidak ada jejak sensitivitas transfobia. Dia menulis mediasi tentang kebaikan dan penerimaan. Dan Dumbledore adalah peran yang indah," katanya.
Keputusan Lithgow untuk bertahan bukan tanpa perenungan. Ia mengakui bahwa peran ini kemungkinan menjadi peran besar terakhir dalam kariernya yang membentang lebih dari lima dekade. Komitmen delapan tahun untuk serial ini membuatnya merenungkan soal mortalitas dan menjadikan peran ini sebagai penutup yang tepat. "Itu keputusan besar karena ini mungkin peran besar terakhir yang akan saya mainkan. Ini komitmen delapan tahun, jadi saya hanya berpikir tentang kematian dan bahwa ini adalah peran yang sangat baik untuk mengakhiri karier," ungkapnya kepada The Sunday Times' Culture magazine.
Kontroversi ini menyoroti dinamika yang lebih luas di industri hiburan global, di mana karya seni sering kali terjebak dalam pusaran opini publik tentang penciptanya. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi, misalnya ketika penonton harus memilih antara mengapresiasi karya musisi atau sineas yang memiliki pandangan kontroversial. Hal ini menjadi pengingat bahwa konsumen budaya semakin kritis dan tidak segan menyuarakan nilai-nilai yang mereka yakini, sekaligus menuntut adanya pemisahan yang jelas antara karya dan pribadi penciptanya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah serial Harry Potter ini akan mampu bertahan di tengah badai kontroversi, atau justru semakin populer karena perdebatan yang mengitarinya. Akankah penonton Indonesia, yang dikenal sangat antusias terhadap adaptasi film dan serial, tetap memberikan sambutan hangat? Atau justru muncul gerakan boikot yang serupa dengan yang terjadi di negara lain? Yang jelas, keputusan para aktor untuk bersuara menunjukkan bahwa industri hiburan tidak lagi bisa berdiam diri dalam isu-isu sosial yang sensitif.



