Blusukan Jokowi di Lampung: PDIP Baca Skenario Politik 2029 untuk Gibran dan Kaesang
Baca dalam 60 detik
- PDIP menilai rangkaian blusukan Jokowi di Lampung adalah kampanye terselubung untuk mengamankan kursi Gibran di Pilpres 2029 dan mendongkrak elektabilitas PSI.
- Guntur Romli mengkritik Jokowi yang dinilai telah beralih peran dari kader partai menjadi 'jongos politik' PSI demi ambisi dinasti.
- Agenda tiga hari Jokowi di Lampung diisi pertemuan dengan tokoh adat, UMKM, dan relawan, yang menurut pengamat tidak akan menguntungkan PDIP secara elektoral.

Rangkaian blusukan Presiden ke-7 Joko Widodo di Lampung pada akhir pekan ini dinilai oleh politikus PDI Perjuangan, Guntur Romli, bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bagian dari panggung politik untuk Pemilu 2029. Menurutnya, setiap langkah Jokowi di Bumi Ruwa Jurai itu dirancang untuk mengamankan masa depan politik kedua putranya: Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep.
Guntur menegaskan bahwa blusukan yang identik dengan gaya populis Jokowi kini telah berubah fungsi. Jika dulu ia melakoni tugas partai untuk melayani rakyat saat menjadi wali kota, gubernur, hingga presiden, kini aktivitas serupa diarahkan untuk kepentingan elektoral Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang diketuai Kaesang. "Itu kampanye politik untuk 2029, buat pemenangan anak-anaknya dia. Gibran yang kemungkinan besar tidak bersama Prabowo lagi. Dan meloloskan PSI yang diketuai oleh Kaesang. Semua demi masa depan anak-anaknya, Jokowi harus kerja keras," ujar Guntur saat dihubungi, Jumat (26/6).
Kritik tajam ini muncul di tengah fakta bahwa Jokowi memulai blusukan di Lampung pada hari yang sama. Agenda tiga hari yang padat meliputi Rakorda PSI di Tulang Bawang, Kirab Pawai Budaya Karnaval Gajah, pertemuan dengan tokoh adat Lampung, kunjungan ke Museum Transmigrasi dan Desa Bagelen, serta temu UMKM di Maliosewu dan Pondok Pesantren Nurul Qodiri. Aktivitas ini, menurut Guntur, justru menguntungkan partai lain, bukan PDIP. "Buktinya orang-orang yang berhasil digaet bukan dari PDI Perjuangan tapi dari NasDem, Ahmad Ali, Bestari Barus, Rusdie Masse dan lain-lain, parpol-parpol lain yang mestinya harus lebih waspada," katanya.
Guntur juga menyoroti bahwa ambisi Jokowi untuk membangun dinasti politik tidak akan berhenti pada Gibran. Ia memperkirakan bahwa Gibran, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Prabowo Subianto, kemungkinan besar akan berpisah jalan dengan Prabowo pada 2029. "Karena dari pengalaman Jokowi sendiri, tidak ada namanya wapres yang sama di 2 periode," tegasnya. Pandangan ini mengindikasikan bahwa blusukan Jokowi juga merupakan upaya membangun basis dukungan mandiri bagi Gibran, tanpa bergantung pada koalisi dengan partai-partai lain.
Di sisi lain, manuver Jokowi ini menimbulkan pertanyaan mengenai loyalitas politiknya. PDIP, yang pernah menjadi kendaraan politik Jokowi, kini merasa ditinggalkan. Guntur bahkan menyebut Jokowi telah menjadi "jongos partai PSI" yang dieksploitasi untuk kepentingan elektoral semata. Pernyataan ini mencerminkan keretakan hubungan antara Jokowi dan partai berlambang banteng moncong putih itu, yang semakin nyata pasca-Pemilu 2024.
Ke depan, efektivitas blusukan Jokowi dalam mengerek elektabilitas PSI dan Gibran masih harus diuji. Apakah gaya blusukan yang dulu sukses mengantarkan Jokowi ke kursi presiden masih ampuh untuk memenangkan anak-anaknya? Atau justru akan menjadi bumerang karena dianggap sebagai politik dinasti yang berlebihan? Publik akan menanti hasil dari setiap langkah Jokowi di Lampung dan implikasinya terhadap peta politik 2029.



