IHSG Terperosok Nyaris 3%, Asing Catat Net Sell Rp442 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 2,73% ke 5.835,11 pada sesi I Jumat (26/6/2026), setelah sempat menyentuh level 6.045.
- Investor asing melepas saham senilai Rp442,88 miliar secara net sell, dengan tekanan jual terbesar di BMRI dan TLKM.
- Aksi jual asing menambah kekhawatiran atas stabilitas pasar modal Indonesia di tengah pelemahan nilai tukar dan ketidakpastian global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk nyaris 3 persen pada perdagangan sesi pertama, Jumat (26/6/2026), setelah gagal mempertahankan momentum penguatan awal. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih senilai Rp442,88 miliar, menekan mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada akhir sesi I, IHSG terpangkas 2,73 persen atau 164 poin ke level 5.835,11. Indeks sempat menyentuh puncak harian di 6.045 sebelum berbalik arah dan menyentuh titik terendah 5.830. Tekanan jual begitu deras: sebanyak 593 saham melemah, sementara hanya 91 saham menguat dan 123 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp6,39 triliun dengan volume 11,70 miliar saham dalam 933 ribu kali transaksi.
Dari sisi net foreign buy, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi primadona dengan net beli Rp261,75 miliar. Disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp37,06 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp23,43 miliar. Sebaliknya, saham perbankan BUMN justru menjadi sasaran jual: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net sell tertinggi Rp112,94 miliar, diikuti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp104,62 miliar, dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp76,32 miliar.
Pelemahan IHSG kali ini terjadi di tengah sentimen global yang kurang kondusif, termasuk kekhawatiran perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan fluktuasi harga komoditas. Bagi investor Indonesia, aksi jual asing di saham-saham berkapitalisasi besar seperti BMRI dan TLKM menjadi sinyal waspada. Kedua emiten tersebut selama ini menjadi pilar indeks, sehingga tekanan jual di sana bisa memicu koreksi lebih dalam. Di sisi lain, akumulasi asing di BBCA menunjukkan preferensi terhadap saham defensif dengan fundamental kuat.
Analis pasar menilai, net sell asing yang cukup besar dalam satu sesi mencerminkan sikap wait-and-see menjelang rilis data ekonomi domestik pekan depan. Jika IHSG gagal bertahan di atas level psikologis 5.800, bukan tidak mungkin indeks menguji support 5.700 dalam waktu dekat. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah investor asing kembali masuk setelah koreksi ini, atau justru melanjutkan aksi jual?



