Tunisia Pulang dengan Nihil Poin: Rekor Kebobolan Terbuka di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Tunisia mencatat rekor kebobolan 12 gol di fase grup Piala Dunia 2026, terburuk dalam sejarah turnamen.
- Pergantian pelatih di tengah turnamen gagal memperbaiki pertahanan yang rapuh setelah kekalahan telak dari Swedia.
- Kegagalan ini memicu evaluasi besar-besaran federasi sepak bola Tunisia, dengan masa depan pelatih Herve Renard di ujung tanduk.

Keputusan nekat mengganti pelatih di tengah turnamen tak mampu menyelamatkan Tunisia dari kehancuran di Piala Dunia 2026. Kekalahan 3-1 dari Belanda pada laga pamungkas Grup F, Kamis (25/6), memastikan langkah mereka berakhir tanpa satu pun kemenangan, sekaligus menorehkan catatan kelam sebagai tim dengan kebobolan terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia.
Dengan 12 gol bersarang di gawang mereka selama fase grup, Tunisia memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang Kosta Rika (11 gol) pada Piala Dunia 2022. Ironisnya, torehan ini justru terjadi di tengah euforia format baru 48 tim yang seharusnya memberi peluang lebih besar bagi tim non-unggulan. Bagi pengamat sepak bola Asia, termasuk Indonesia, kegagalan Tunisia menjadi pengingat betapa tipisnya margin kesalahan di level tertinggi.
Perjalanan Tunisia sebenarnya dimulai dengan optimisme tinggi. Mereka melaju ke Piala Dunia tanpa kebobolan satu gol pun di babak kualifikasi. Namun, mimpi itu sirna segera setelah peluit pertama dibunyikan. Kekalahan telak 5-1 dari Swedia membuka borok pertahanan yang sebelumnya dianggap kokoh. Federasi bereaksi cepat dengan memecat Lamouchi dan menunjuk Renard, pelatih kawakan yang sudah malang melintang di lima tim nasional Afrika.
Namun, perubahan tak membawa hasil. Di laga kedua, Jepang mempermalukan Tunisia 4-0, membuat Renard mengaku βmaluβ dengan performa anak asuhnya. Pertahanan yang rapuh kembali menjadi biang keladi. Melawan Belanda, gol bunuh diri Ellyes Skhiri pada menit ketiga langsung menghancurkan mental tim. Meski sempat memperkecil ketertinggalan lewat sundulan Hazem Mastouri, Renard bahkan tidak bergeming dari bangku cadangan saat gol itu tercipta β sebuah gambaran betapa frustrasinya situasi.
βKami tidak berada di level yang dibutuhkan Piala Dunia ini, itu jelas, tidak perlu diperdebatkan,β ujar Renard seusai pertandingan. βSekarang federasi harus duduk, menganalisis semuanya. Ini penting. Semua orang akan pulang, beristirahat, dan mereka punya waktu untuk mengambil keputusan demi masa depan.β
Bagi sepak bola Indonesia, kegagalan Tunisia menyoroti pentingnya manajemen krisis dan kedalaman skuad. Timnas Indonesia yang tengah mengejar mimpi tampil di Piala Dunia 2034 bisa belajar dari pengalaman Tunisia: pertahanan yang solid di kualifikasi belum menjamin kesuksesan di turnamen utama. Selain itu, keputusan mengganti pelatih di tengah kompetisi β seperti yang sempat terjadi di level klub Indonesia β terbukti berisiko tinggi jika tidak dibarengi adaptasi cepat.
Kepercayaan diri pemain yang sempat melambung sebelum turnamen perlahan luntur seiring kekalahan beruntun. Baik perubahan taktik maupun pergantian pelatih tak mampu menambal kebocoran di lini belakang yang terus dihukum oleh lawan-lawan yang klinis. Tunisia pulang lebih awal, meninggalkan banyak pertanyaan tanpa jawaban.
Renard, 57 tahun, mengakui masa depannya tidak pasti. Federasi Tunisia kini dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pelatih yang gagal membawa perubahan instan, atau memulai lagi dari awal. Satu hal yang pasti, kegagalan ini akan menjadi bahan evaluasi panjang bagi sepak bola Afrika β dan pelajaran berharga bagi negara berkembang seperti Indonesia yang bermimpi besar.



