Gagal di Piala Dunia, Pelatih Korea Selatan Mundur dan Presiden Minta Investigasi
Baca dalam 60 detik
- Hong Myung-bo mundur dari kursi pelatih Timnas Korea Selatan setelah gagal melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026.
- Presiden Lee Jae-myung memerintahkan investigasi atas kegagalan tim yang dinilai sebagai kegagalan organisasi dan personalia.
- Kontroversi penunjukan Hong sejak awal dan ancaman pembunuhan terhadapnya menambah keruh suasana sepak bola Korea.

Hong Myung-bo resmi meletakkan jabatan sebagai pelatih kepala Timnas Korea Selatan setelah tim gagal melaju ke babak knockout Piala Dunia 2026. Keputusan ini diumumkan dalam konferensi pers di Meksiko bagian barat, Minggu (30/6), sehari setelah harapan terakhir Korea untuk lolos sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik sirna.
Korea Selatan yang menempati peringkat ke-32 FIFA hanya mampu meraih satu kemenangan dan dua kekalahan di Grup A, finis di bawah Meksiko (peringkat 15) dan Afrika Selatan (peringkat 60). Kekalahan 1-0 dari Afrika Selatan pada laga terakhir menjadi pukulan telak, meski format baru Piala Dunia dengan 48 tim memberi celah bagi tim peringkat ketiga terbaik untuk lolos.
Presiden Lee Jae-myung menyatakan "kebingungan total" atas hasil yang tak terduga ini. Dalam unggahan di platform X, ia menilai kegagalan tersebut "tampak sebagai kegagalan organisasi dan personalia". Lee bahkan menyindir, "Ketika nepotisme dan pilih kasih mengalahkan kompetensi dalam memilih komandan, hasilnya sudah bisa ditebak seperti api membakar kertas." Pernyataan keras ini langsung memicu perdebatan publik mengenai transparansi Federasi Sepak Bola Korea (KFA).
Hong sendiri mengakui tanggung jawab penuh atas hasil buruk ini. "Kami tidak memberikan hasil yang diharapkan para penggemar," ujarnya. Namun ia menegaskan tidak akan meninggalkan sepak bola Korea sepenuhnya. "Saya akan mendukung timnas dari lubuk hati yang paling dalam dan berharap tim ini kembali dipercaya dan dicintai rakyat." Pernyataan ini disampaikan di tengah tekanan publik yang semakin besar.
Penunjukan Hong pada 2024 memang kontroversial sejak awal. Legenda semifinal Piala Dunia 2002 itu sebelumnya gagal total saat menangani timnas pada 2014—tanpa satu pun kemenangan di babak grup. Banyak penggemar menilai KFA lebih memilih "orang dalam" ketimbang kandidat asing yang telah melalui proses seleksi ketat. Kritik ini kembali mengemuka setelah kegagalan di Piala Dunia kali ini.
Bagi Indonesia, kisruh sepak bola Korea Selatan menjadi pelajaran berharga. Transparansi dalam seleksi pelatih dan evaluasi berbasis kinerja menjadi kunci agar federasi sepak bola tidak terjebak dalam praktik nepotisme. PSSI pun tengah menghadapi sorotan serupa terkait naturalisasi pemain dan pemilihan pelatih timnas. Jika Korea—dengan infrastruktur dan basis penggemar yang kuat—saja bisa terperosok, Indonesia harus lebih waspada dalam membangun tata kelola sepak bola yang profesional.
Ke depan, pertanyaan besar menggantung: akankah KFA benar-benar melakukan investigasi independen seperti diminta presiden, atau justru kembali ke praktik lama? Sementara itu, ancaman pembunuhan terhadap Hong menunjukkan betapa panasnya suhu sepak bola Korea saat ini. Reformasi menyeluruh mungkin menjadi satu-satunya jalan agar Taeguk Warriors bisa bangkit kembali.



