Saham SoftBank Anjlok 12%, Investor Grab dan GoTo Terpukul
Baca dalam 60 detik
- SoftBank Group, pemegang saham utama Grab dan GoTo, ambles lebih dari 12% di bursa Tokyo akibat kekhawatiran melonjaknya biaya infrastruktur AI.
- Tekanan pada saham teknologi Asia meluas, dengan SK Hynix dan Samsung Electronics ikut merosot, setelah Nasdaq melemah dan Apple mengumumkan kenaikan harga produk.
- Koreksi ini berpotensi menekan valuasi startup digital di Indonesia yang bergantung pada pendanaan investor teknologi global.

Saham SoftBank Group, konglomerat investasi Jepang yang menjadi salah satu pemegang saham terbesar Grab dan GoTo, ambles lebih dari 12% pada perdagangan Jumat (26/6). Aksi jual ini memicu kekhawatiran di kalangan investor teknologi Asia, terutama karena tekanan berasal dari biaya infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang terus meroket.
Penurunan tajam SoftBank terjadi setelah indeks Nasdaq Composite di Wall Street mencatat pelemahan untuk sesi keempat berturut-turut. Apple menjadi biang kerok utama setelah mengumumkan kenaikan harga MacBook dan iPad akibat mahalnya biaya komponen, termasuk chip. Saham Apple ambles 6%, menutupi laporan laba Micron yang sebenarnya melampaui ekspektasi. Di Jepang, saham Arm Holdings—perancang chip milik SoftBank—turut tertekan 3,2%, lebih buruk dari kinerja sektor semikonduktor secara umum.
Menurut Andrew Jackson, ahli strategi ekuitas di Ortus Advisors, antusiasme investor terhadap SoftBank juga teredam oleh kabar bahwa OpenAI mungkin menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) hingga tahun depan. Kesulitan OpenAI mencapai valuasi US$1 triliun menjadi sinyal bahwa pasar mulai jenuh dengan valuasi tinggi di sektor AI. Meski demikian, Jackson menilai kesepakatan chip pusat data AI antara Qualcomm dan Meta berpotensi memberikan dampak positif bagi Arm melalui pembayaran royalti. Namun, Arm juga menghadapi persaingan ketat dari Qualcomm yang agresif berekspansi ke pasar CPU.
Tekanan tidak berhenti di Jepang. Di Korea Selatan, saham SK Hynix turun lebih dari 3%, sementara Samsung Electronics kehilangan hampir 3%. Perusahaan holding investasi SK Square ambles sekitar 7%, disusul LG Electronics dan Seoul Semiconductor. Di Jepang, Advantest turun lebih dari 6%, dan Tokyo Electron melemah lebih dari 2%. Pelemahan ini memperkuat sentimen bahwa kenaikan harga semikonduktor mulai menggerus margin perusahaan teknologi besar. Microsoft, misalnya, turun 3,5% setelah menaikkan harga konsol Xbox, sementara Alphabet dan Meta Platforms juga ikut tertekan.
Bagi investor di Indonesia, koreksi saham SoftBank menjadi sinyal waspada. GoTo dan Grab, dua platform digital terbesar di Asia Tenggara, masih bergantung pada dukungan pendanaan dari SoftBank dan investor teknologi global. Jika tekanan di pasar saham berlanjut, valuasi startup digital di Indonesia berpotensi terpangkas, dan akses pendanaan baru bisa semakin ketat. Selain itu, kenaikan biaya infrastruktur AI juga berdampak pada ekspansi layanan berbasis kecerdasan buatan di Indonesia, yang membutuhkan investasi server dan chip mahal.
Ke depan, investor akan mencermati apakah SoftBank mampu mempertahankan portofolio investasinya di tengah gejolak pasar. Pertanyaan besarnya: akankah koreksi ini hanya bersifat sementara, atau justru menjadi awal tren bearish bagi saham teknologi Asia? Jawabannya akan sangat bergantung pada prospek pendapatan perusahaan AI dan kemampuan mereka mengendalikan biaya infrastruktur.



