Harga Minyak Terkatung-katung: Iran Beri Syarat Sebelum Selat Hormuz Dibuka Kembali
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah bergerak datar setelah Iran menegaskan sejumlah prasyarat sebelum Selat Hormuz dapat dilalui kapal tanker, meredam optimisme pasar terhadap kesepakatan dengan Oman.
- Serangan Houthi ke kilang Saudi Aramco dan laporan ADNOC tentang 15 kapal yang diserang menambah ketidakpastian pasokan global, memperkuat premi risiko geopolitik.
- Pasar energi dunia kini bergantung pada dinamika negosiasi Iran-AS; jika buntu, harga minyak berpotensi melonjak, sementara kemajuan berarti tekanan turun.

Harga minyak mentah dunia nyaris tak bergerak pada awal pekan ini, setelah Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan terjadi tanpa pemenuhan sejumlah tuntutan oleh Amerika Serikat. Sikap tegas Teheran itu langsung meredam euforia pasar yang sebelumnya sempat optimistis terhadap prospek kesepakatan dengan Oman, sekaligus menjaga ketidakpastian pasokan energi global tetap tinggi.
Pada perdagangan Senin (10/8), Brent bertahan di level 83,54 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun tipis 0,2 persen ke 78,03 dolar AS. Padahal, pekan lalu kedua patokan harga ini sempat merosot lebih dari 7 persen setelah muncul harapan bahwa Iran dan Oman segera mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur laut strategis yang sebelumnya mengangkut seperlima pasokan minyak dunia.
Namun, pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada akhir pekan menjadi penyejuk. Ia menegaskan bahwa negosiasi dengan AS tidak sedang berlangsung dan tidak akan dimulai selama Washington masih melanggar kesepakatan sementara yang diteken pada Juni lalu. Iran juga mengulangi syarat kompensasi atas serangan AS yang meluas ke wilayahnya sebagai prasyarat sebelum Selat Hormuz bisa kembali dilalui kapal tanker.
Sugandha Sachdeva, pendiri firma riset SS WealthStreet yang berbasis di New Delhi, menilai pergerakan harga minyak saat ini berada di antara dua kekuatan yang berlawanan. "Pasar mencoba mengukur peluang terobosan di Selat Hormuz versus syarat-syarat yang diajukan Iran," ujarnya. Menurut dia, setiap kemajuan berarti menuju normalisasi pelayaran akan menekan harga, tetapi kegagalan negosiasi atau gangguan pasokan baru bisa dengan cepat menghidupkan kembali premi risiko geopolitik.
- Brent: 83,54 dolar AS per barel (stagnan); WTI: 78,03 dolar AS per barel (turun 0,2%).
- Pekan lalu kedua acuan turun lebih dari 7% karena harapan kesepakatan Iran-Oman.
- ADNOC UEA melaporkan 15 kapalnya diserang di Selat Hormuz sejak konflik dimulai.
- Houthi mengklaim serangan ke kilang Saudi Aramco di Jazan pada Minggu (9/8).
Ketegangan di kawasan Teluk kian memanas setelah Houthi, kelompok yang berseberangan dengan koalisi pimpinan Arab Saudi, mengaku bertanggung jawab atas serangan ke kilang Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu. Insiden ini terjadi hanya dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan, dua sekutu Sunni, sebagai respons atas meningkatnya instabilitas regional akibat perang AS-Israel melawan Iran yang beraliran Syiah.
Di sisi lain, perusahaan energi nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, mengungkapkan bahwa 15 kapalnya telah menjadi sasaran serangan saat melintasi Selat Hormuz sejak konflik pecah. Angka ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap infrastruktur minyak dan rute pelayaran bukan sekadar wacana, melainkan sudah berdampak nyata pada operasional perusahaan energi di kawasan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, setiap gejolak harga di pasar global akan berdampak pada anggaran subsidi energi dan inflasi domestik. Kenaikan harga minyak yang tajam dapat memaksa pemerintah menyesuaikan harga BBM atau memperbesar beban subsidi, sementara pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan semakin memperberat biaya impor energi.
Para analis memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, harga minyak akan tetap volatil, bergantung pada isyarat diplomatik dari Washington dan Teheran. Jika negosiasi menemui jalan buntu dan serangan terhadap infrastruktur minyak berlanjut, premi risiko geopolitik dapat kembali mendorong harga menembus level tertinggi baru. Sebaliknya, jika ada tanda-tanda kompromi, tekanan turun akan segera terasa.
Pertanyaannya kini, akankah AS bersedia memenuhi tuntutan Iran demi memulihkan arus minyak global, atau justru eskalasi baru akan terjadi? Jawabannya akan menentukan arah pasar energi dunia, sekaligus menjadi ujian bagi ketahanan ekonomi negara-negara pengimpor seperti Indonesia.



