Samantha Morton Buka Suara soal Digantikan Scarlett Johansson di Film 'Her': Masih Ada Luka
Baca dalam 60 detik
- Aktris Inggris Samantha Morton mengaku masih kecewa setelah perannya sebagai sistem operasi AI di film 'Her' (2013) digantikan Scarlett Johansson pada tahap pascaproduksi.
- Morton menilai keputusan sutradara Spike Jonze adalah hak prerogatif, tetapi ia menyayangkan tidak diberi kesempatan merekam ulang dengan aksen Amerika.
- Pengalaman syuting bersama Joaquin Phoenix dikenangnya sebagai momen istimewa, meski versi karakternya yang beraksen Inggris akhirnya tidak dipakai.

Kekecewaan masih menyelimuti aktris Samantha Morton ketika mengenang film fiksi ilmiah Her (2013). Ia sempat merekam seluruh dialog sebagai sistem operasi cerdas bernama Samantha, tetapi sutradara Spike Jonze memutuskan mengganti suaranya dengan Scarlett Johansson pada tahap penyuntingan akhir. Dalam wawancara terbaru di podcast Happy Sad Confused, Morton mengaku perasaan sedih itu belum sepenuhnya hilang meski ia memahami hak kreatif seorang sutradara.
Bagi Morton, kejadian ini menjadi pelajaran pahit tentang ketidakpastian industri film. "Untuk pekerjaan apa pun, kamu tidak pernah dijamin akan tetap bertahan di hasil akhir," ujarnya. Namun, ia mengakui keterkejutannya saat mengetahui suaranya diganti. "Sedikit sedih itu pernyataan yang terlalu halus," tambahnya. Meski demikian, ia menilai suara Johansson memang "sangat indah dan menggugah", tetapi ia tetap menyimpan harapan untuk diberi kesempatan kedua merekam dengan aksen Amerika.
Proses syuting Her sendiri meninggalkan kesan mendalam bagi Morton. Ia mengenang momen bekerja bersama Joaquin Phoenix sebagai pengalaman yang "sangat spesial". Saat itu, ia direkam dalam bilik kedap suara berlapis kain hitam, bahkan kadang di dalam bagasi mobil, demi menciptakan nuansa intim antara manusia dan AI. "Kami melakukan hal-hal gila," katanya. Versi Samantha yang ia ciptakan, menurut Morton, sangat berbeda karena beraksen Inggrisโsebuah pilihan yang akhirnya tidak digunakan.
Keputusan Spike Jonze mengganti suara Morton di pascaproduksi bukan tanpa alasan. Dalam berbagai wawancara sebelumnya, Jonze mengaku ingin eksplorasi lebih jauh terhadap karakter tersebut, dan suara Johansson dianggap lebih cocok untuk membangun kedekatan emosional dengan penonton. Namun, kasus ini membuka diskusi tentang praktik penggantian aktor di tahap akhir produksi, yang kerap kali meninggalkan luka bagi para pemain asli. Bagi industri film Indonesia, fenomena ini juga relevan mengingat proses dubbing dan sulih suara sering kali menjadi penentu akhir sebuah karya.
Morton, yang kini berusia 49 tahun, tetap bersikap profesional. Ia menegaskan bahwa keputusan akhir sebuah film adalah hak prerogatif sutradara. Namun, pernyataannya "sakit rasanya ketika dipecat dari sesuatu" menggambarkan realitas pahit yang kerap dialami pekerja kreatif. Di tengah sorotan industri yang semakin menghargai transparansi, kasus ini menjadi pengingat bahwa kolaborasi artistik tidak selalu berakhir sesuai harapan semua pihak.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah praktik penggantian suara atau peran di tahap akhir produksi akan semakin diminimalkan, atau justru menjadi tren baru di era streaming yang menuntut kesempurnaan? Bagi para sineas Indonesia, pelajaran dari pengalaman Morton adalah pentingnya komunikasi yang jelas antara sutradara dan aktor sejak awal, agar karya yang dihasilkan tidak hanya memuaskan secara artistik, tetapi juga menghargai kontribusi setiap individu yang terlibat.



