Duka Musik Malaysia: Komposer Lee Sze Wan Meninggal di Usia 47
Baca dalam 60 detik
- Lee Sze Wan, sosok di balik sejumlah lagu hits Malaysia, tutup usia pada 9 Agustus 2026.
- Kolaborasinya dengan deretan musisi papan atas seperti Siti Nurhaliza dan Misha Omar menjadi warisan abadi.
- Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi industri musik regional, termasuk penggemar di Indonesia.

Dunia musik Malaysia berduka. Komposer dan pengarah musik berbakat, Lee Sze Wan, dikabarkan meninggal dunia pada Minggu, 9 Agustus 2026, di usia 47 tahun. Kabar ini mengejutkan banyak pihak, terutama rekan-rekan musisi yang pernah bekerja sama dengannya. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kepergiannya belum diungkapkan ke publik.
Kabar duka ini pertama kali disebarluaskan oleh penyanyi Misha Omar melalui unggahan Instagram Stories. Misha, yang pernah berkolaborasi dengan Lee, membagikan sejumlah foto kebersamaan mereka, termasuk momen saat tampil di atas panggung. Dalam unggahannya, Misha menyertakan lagu Michael Jackson berjudul "Gone Too Soon" sebagai pengiring, dengan keterangan menyentuh: "Holding you in my heart, forever. Until we meet again." Unggahan ini sontak memicu gelombang belasungkawa dari para penggemar dan rekan artis.
Lee Sze Wan bukan nama asing di industri musik Malaysia. Ia dikenal sebagai komposer dan pengarah musik yang karyanya telah menghiasi banyak lagu populer. Salah satu karyanya yang paling dikenang adalah lagu "Tanpa Relamu" yang dibawakan Misha Omar pada tahun 2020. Selain itu, Lee juga dipercaya menjadi pengarah musik untuk konser Misha Omar pada tahun 2025, sebuah peran yang menuntut ketelitian dan kepekaan artistik tinggi.
Tak hanya Misha, Lee juga pernah dipercaya menjadi pengarah musik untuk konser "Empat Live" di Kuala Lumpur tahun lalu. Konser yang menampilkan duet kakak-beradik Anuar Zain dan Ziana Zain, serta Ernie Zakri dan Syamel ini sukses besar, dan sentuhan Lee di balik panggung ikut menyumbang kesuksesan tersebut. Kolaborasi Lee dengan musisi-musisi papan atas Malaysia lainnya juga tercatat dalam diskografinya, seperti dengan Datuk Seri Siti Nurhaliza dalam lagu "Penghiburku" yang menampilkan Joe Flizzow, serta dengan Anuar Zain dalam "Selamat Malam", Aina Abdul dalam "Imaji", dan Dayang Nurfaizah dalam "Akhirnya Bahagia".
Kepergian Lee meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan sahabat, tetapi juga bagi industri musik Malaysia yang kehilangan salah satu talenta terbaiknya. Anuar Zain, yang kerap bekerja sama dengan Lee, menyampaikan penghormatan terakhirnya melalui Instagram Stories. Ia menulis, "A great loss for all of us. You will be deeply missed, Sze. You will always remain in our hearts. Thank you for the beautiful music, for sharing your incredible talent with us, and for being such a wonderful music director and, most importantly, a dear friend to us all." Pernyataan ini menggambarkan betapa besar pengaruh Lee dalam hidup dan karier para musisi yang pernah bekerja dengannya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kabar ini tentu terasa dekat. Musik Malaysia selalu memiliki tempat khusus di hati pendengar Indonesia, dan karya-karya Lee Sze Wan seperti "Penghiburku" atau "Tanpa Relamu" mungkin sering diputar di berbagai platform digital. Kepergiannya menjadi pengingat bahwa di balik lagu-lagu yang kita nikmati, ada sosok-sosok kreatif yang bekerja keras dan meninggalkan jejak abadi. Warisan musik Lee akan terus hidup melalui karya-karyanya yang abadi.
Pertanyaannya kini, siapa yang akan meneruskan estafet kreativitas di industri musik Malaysia? Dengan kepergian Lee, industri musik kehilangan salah satu pilar pentingnya. Namun, seperti kata pepatah, seni tidak pernah mati. Karya-karya Lee akan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi musisi berikutnya, baik di Malaysia maupun di kawasan Asia Tenggara.



