Longsor Baguio Tewaskan Empat Orang, Enam Warga Masih Hilang
Baca dalam 60 detik
- Empat jenazah berhasil dievakuasi dari timbunan tanah di Barangay Guisad Surong, Baguio City, setelah longsor menerjang tiga rumah Minggu malam.
- Operasi pencarian masih berlangsung untuk enam warga yang belum ditemukan, sementara tiga korban selamat dirawat di rumah sakit setempat.
- Hujan yang masih mengguyur kawasan Cordillera meningkatkan risiko longsor susulan, memaksa 69 warga mengungsi ke tempat penampungan sementara.

Empat orang dipastikan tewas setelah longsor menerjang tiga rumah di Riverside, Barangay Guisad Surong, Baguio City, pada Minggu (9/8) malam. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 19.00 waktu setempat itu juga meninggalkan enam warga yang hingga kini belum ditemukan, sementara tim penyelamat masih berjibaku dengan hujan dan material lumpur untuk mencari korban.
Kepala Kepolisian Baguio City, Kolonel Ruel Tagel, melaporkan kepada Wali Kota Benjamin Magalong bahwa total 13 orang tertimbun dalam musibah tersebut. Hingga Senin (10/8) pukul 05.35 pagi, tujuh korban berhasil diekstraksi dari reruntuhan. Dari jumlah itu, empat orang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia: seorang pelajar perempuan berusia 17 tahun, dua anak berusia sembilan tahun (laki-laki dan perempuan), serta seorang pria berusia 56 tahun.
Tiga korban selamat yang berhasil ditarik dari timbunan tanah adalah seorang pria berusia 27 tahun, seorang perempuan seusianya, dan seorang pendeta berusia 77 tahun. Mereka kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat. Namun, enam warga lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk dua anak berusia tiga dan delapan tahun.
Proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung di tengah hujan yang turun secara intermiten. Pihak berwenang tengah mempertimbangkan penggunaan alat berat untuk mempercepat pembersihan material dan operasi penyelamatan. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat Baguio dan sebagian wilayah Cordillera masih dilanda hujan, meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya longsor susulan di daerah rawan.
Di sisi lain, dampak sosial dari bencana ini mulai terasa. Sebanyak 14 keluarga atau 62 orang telah dievakuasi dari Guisad Surong dan kini mengungsi di Baguio International Academy. Sementara itu, tujuh pengungsi lainnya berlindung di Balai Barangay Guisad Surong. Sebagian besar pengungsi adalah anak-anak berusia tiga hingga tujuh tahun.
Pemerintah kota Baguio telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat dan organisasi untuk menyalurkan bantuan berupa makanan, selimut, pakaian, serta perlengkapan mandi bagi keluarga yang terdampak. Donasi dapat diserahkan langsung ke Baguio International Academy atau Balai Barangay Guisad Surong.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan perbukitan di Filipina terhadap bencana hidrometeorologi. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi di daerah dataran tinggi seperti Bogor, Bandung, atau Malang, terutama saat musim hujan. Longsor di Baguio menyoroti pentingnya sistem peringatan dini dan tata kelola lahan yang ketat di zona rawan bencana.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berupaya menemukan enam korban hilang. Pertanyaannya, apakah curah hujan yang terus mengguyur akan mempersulit upaya penyelamatan dan memicu bencana baru di wilayah sekitarnya? Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat.



