Selamat dari Gempa Kumamoto, Pelajar 15 Tahun Ajak Generasi Muda Perjuangkan Perdamaian
Baca dalam 60 detik
- Kazuki Morinaga, pelajar asal Kumamoto, selamat dari gempa bumi yang memicu ledakan di pusat perbelanjaan, lalu menyuarakan pentingnya perdamaian di forum pelajar Nagasaki.
- Pengalamannya yang menegangkan menjadi pengingat akan kerentanan hidup dan urgensi menghentikan perang serta senjata nuklir.
- Seruannya kepada generasi muda untuk bertindak nyata dalam mewujudkan dunia tanpa kekerasan sejalan dengan semangat perdamaian yang relevan bagi Indonesia.

Nagasaki, Jepang โ Seorang siswi sekolah menengah atas berusia 15 tahun asal Prefektur Kumamoto, Kazuki Morinaga, mengubah trauma gempa bumi yang nyaris merenggut nyawanya menjadi seruan perdamaian. Dalam sebuah pertemuan pelajar di Nagasaki, Senin (8/8), Morinaga mengajak generasi muda untuk berjuang mewujudkan dunia yang bebas dari perang dan senjata nuklir, tepat menjelang peringatan 81 tahun bom atom di kota tersebut.
Morinaga, yang duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Komersial Kumamoto, menceritakan pengalamannya saat gempa bumi berkekuatan dahsyat melanda pada 28 Juli lalu. Saat itu, ia berada di dalam Aeon Mall Kumamoto di Kota Kashima, menunggu film dimulai di bioskop lantai dua. Guncangan keras membuatnya dan sekitar 20 penonton lain bergegas berlindung. Debu berjatuhan, minuman dan popcorn berserakan, serta retakan mulai terlihat di lantai bangunan. Ketakutan akan runtuhnya mal membuat mereka segera dievakuasi melalui pintu darurat.
Setelah keluar, keluarga Morinaga memutuskan langsung pulang ke rumah mereka di Kota Mashiki, yang sebelumnya telah rusak parah akibat gempa Kumamoto 2016. Dalam perjalanan, lampu lalu lintas padam dan tiang listrik tumbang, menyebabkan kemacetan panjang. Di tengah kekacauan itu, Morinaga menerima pesan dari temannya bahwa mal yang baru saja mereka tinggalkan meledak. "Jika evakuasi kami terlambat, apa yang akan terjadi pada kami?" kenangnya, masih merasakan getaran ketakutan.
Pengalaman ini menjadi titik balik bagi Morinaga. Dalam pidatonya di hadapan sekitar 150 pelajar yang berkumpul untuk berbagi upaya perdamaian dan penghapusan senjata nuklir, ia menegaskan, "Saya merasakan betapa berharganya hidup. Mari kita bangun dengan tangan kita sendiri sebuah dunia di mana tidak ada seorang pun yang kehilangan nyawa atau kedamaian sehari-hari." Baginya, bencana alam memang tak bisa dicegah, tetapi perang yang diciptakan manusia bisa dihentikan oleh tangan manusia.
Kisah Morinaga bukan sekadar catatan heroik individu, melainkan cermin dari ketangguhan masyarakat Jepang yang akrab dengan bencana. Namun, di balik itu, ada pesan universal yang menggema: perdamaian adalah pilihan, bukan takdir. Di Indonesia, negara yang juga rawan gempa dan memiliki sejarah panjang dalam menjaga kerukunan, seruan ini relevan. Generasi muda Indonesia, yang kerap menjadi agen perubahan, dapat menarik pelajaran bahwa trauma dan kesulitan bisa ditransformasikan menjadi kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih damai.
Para ahli psikologi menilai bahwa pengalaman traumatis seperti yang dialami Morinaga dapat memicu post-traumatic growth, yaitu pertumbuhan psikologis positif setelah krisis. Ini terlihat dari tekadnya untuk terus berkampanye. "Saya ingin melanjutkan upaya ini karena saya percaya," ujarnya, menegaskan komitmennya. Pertanyaannya, mampukah generasi muda di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, menjadikan keprihatinan global akan perang dan ketidakadilan sebagai bahan bakar untuk aksi nyata, bukan sekadar wacana?



