Pritam Singh Terancam Lengser: Kubu Kader Partai Buruh Singapura Siap Gulung Petahana
Baca dalam 60 detik
- Sekelompok kader Partai Buruh (WP) Singapura berencana menjatuhkan Pritam Singh dalam pemilihan internal 28 Juni, dipicu vonis pengadilan atas kebohongannya di parlemen.
- Mantan ketua Low Thia Khiang disebut telah menarik dukungan, membuka peluang bagi penantang seperti Gerald Giam atau Dennis Tan untuk merebut kursi sekretaris jenderal.
- Hasil pemilihan akan menentukan arah partai oposisi utama Singapura: apakah tetap solid di bawah Singh atau terpecah menjelang konsolidasi pasca-Pemilu 2025.

Pritam Singh, sekretaris jenderal Partai Buruh (Workers' Party/WP) Singapura, menghadapi ancaman paling serius terhadap kepemimpinannya dalam delapan tahun terakhir. Sekelompok kader yang kecewa dengan vonis hukum dan gaya kepemimpinannya berencana menggulingkannya dalam pemilihan internal partai yang akan digelar pada 28 Juni mendatang.
Ketegangan internal ini memuncak setelah Pengadilan Tinggi Singapura pada Desember 2025 menguatkan vonis terhadap Singh karena berbohong di depan komite parlemen terkait skandal mantan anggota parlemen Raeesah Khan. Sebanyak 25 kader, termasuk mantan anggota komite eksekutif pusat (CEC) dan calon pemilu, telah menandatangani surat yang meminta diadakannya konferensi khusus untuk meminta pertanggungjawaban Singh. Mereka juga menuntut pengunduran dirinya dan pemungutan suara rahasia jika ia tidak mau lengser.
Upaya mencari penantang pun kian gencar dalam beberapa pekan terakhir. Nama-nama seperti anggota parlemen Aljunied GRC Gerald Giam dan Hougang MP Dennis Tan disebut-sebut sebagai kandidat potensial. Dua anggota parlemen Sengkang GRC, He Ting Ru dan Jamus Lim, yang duduk di panel disiplin yang menyatakan Singh melanggar konstitusi partai, juga masuk dalam bursa calon. Namun, hingga saat ini belum ada satu pun yang secara resmi menyatakan maju.
Yang membuat situasi semakin menarik adalah isyarat dari mantan ketua partai Low Thia Khiang. Low, yang memimpin WP dari 2001 hingga 2018 dan membawa partai meraih kemenangan GRC pertamanya pada 2011, dikabarkan telah menarik dukungan terhadap Singh. Dalam rapat CEC, Low disebut-sebut memberikan suara menentang Singh terkait temuan panel disiplin. Meskipun Low diperkirakan tidak akan maju sebagai penantang, dukungannya terhadap kandidat lain bisa menjadi penentu. Seorang mantan kader memperkirakan bahwa jika Low mendukung penantang, ditambah sekitar 30 kader yang tidak puas, suara yang terkumpul bisa cukup untuk menjatuhkan Singh.
Ketidakpuasan terhadap Singh tidak hanya berasal dari vonis hukum. Banyak kader juga kecewa dengan hasil Pemilu 2025, di mana WP gagal merebut kursi tambahan meskipun dianggap memiliki calon yang kuat. Keputusan Singh untuk mundur dari Marine Parade-Braddell Heights GRC pada hari nominasi juga menuai kritik. Selain itu, Singh dicopot dari jabatan Pemimpin Oposisi oleh Perdana Menteri Lawrence Wong pada Januari 2026. WP menolak menominasikan anggota parlemen lain untuk posisi tersebut, sebuah langkah yang dipertanyakan secara internal karena dinilai merugikan partai dan kubu oposisi secara keseluruhan.
"Orang memilih WP karena mereka percaya kami berbeda. Jika pemimpin kami terbukti berbohong, kami kehilangan moral yang tinggi," ujar seorang kader yang enggan disebut namanya.
Meski demikian, Singh masih memiliki basis pendukung yang kuat. Tokoh senior seperti mantan anggota parlemen non-konstituensi Yee Jenn Jong secara terbuka menyatakan akan mempertahankan Singh. Yee berargumen bahwa Singh belum didiskualifikasi sebagai anggota parlemen secara hukum, dan bahwa setiap pemimpin oposisi di Singapura menghadapi tantangan besar. Para pendukung Singh juga menunjuk pada keberhasilan elektoral di bawah kepemimpinannya, termasuk merebut Sengkang GRC pada 2020 dan meningkatkan perolehan suara pada 2025.
Analis politik menilai hasil pemilihan ini akan menentukan tidak hanya kepemimpinan WP ke depan, tetapi juga persatuan partai dan citranya di mata publik. Nydia Ngiow dari BowerGroupAsia Singapura memperingatkan bahwa pemecatan Singh akan memaksa transisi kepemimpinan di saat WP seharusnya mengkonsolidasikan keuntungan dari Pemilu 2025. Sebaliknya, jika Singh bertahan dengan margin tipis, potensi perpecahan justru semakin terbuka.
Felix Tan, pengamat politik independen, menambahkan bahwa konferensi khusus justru bisa memperkuat citra WP sebagai oposisi yang konstruktif dan menghargai demokrasi internal. Namun, proses ini juga berisiko memperdalam perpecahan yang sudah ada. "Dalam skenario terburuk, jika perbedaan ini menjadi mengakar, mereka bisa merusak kohesi dan efektivitas partai," ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika internal WP menjadi cermin bagaimana partai oposisi di negara tetangga mengelola krisis kepemimpinan di tengah tekanan hukum dan elektoral. Dengan sistem politik Singapura yang sangat terpusat, keberadaan oposisi yang kuat dan kredibel menjadi penting bagi keseimbangan demokrasi. Keputusan kader WP pada 28 Juni tidak hanya akan menentukan nasib Pritam Singh, tetapi juga masa depan politik Singapura.



