Kabayel Akhirnya Lawan Hysa di Düsseldorf, Jalan Menuju Unifikasi 2027
Baca dalam 60 detik
- Agit Kabayel akan mempertahankan sabuk juara dunia kelas berat WBC melawan Nelson Hysa pada 28 November di MERKUR SPIEL-ARENA, Düsseldorf.
- Hysa, petinju Albania tak terkalahkan, mendapat kesempatan setelah mengalahkan Thomas Narmo, meski belum masuk peringkat WBC edisi September.
- Kemenangan impresif Kabayel diproyeksikan membuka jalan menuju duel unifikasi melawan juara IBF Filip Hrgovic pada 2027.

Juara dunia kelas berat WBC, Agit Kabayel, dipastikan bakal menghadapi penantang tak terkalahkan asal Albania, Nelson Hysa, pada 28 November mendatang di MERKUR SPIEL-ARENA, Düsseldorf, Jerman. Kesepakatan ini tercapai setelah negosiasi alot yang sempat memunculkan sejumlah nama alternatif.
Sebelumnya, lima petinju sempat dipertimbangkan sebagai lawan Kabayel: Tony Yoka (Prancis), Guido Vianello (Italia), Andrii Novotskyi (Ukraina), Petar Milas (Kroasia), dan Kem Ljungquist (Denmark). Namun, Hysa yang terus menekan dari belakang akhirnya keluar sebagai pemenang dalam perburuan tiket perebutan gelar.
Langkah Hysa menuju duel ini tidak datang tiba-tiba. Setelah mencetak kemenangan KO atas Thomas Narmo yang sebelumnya tak terkalahkan pada 29 Agustus lalu, ia secara terbuka menantang Kabayel. Aksi itu rupanya membuahkan hasil.
Perjalanan Hysa di atas ring penuh liku. Setelah awal yang menjanjikan di level amatir, ia sempat terjerat masalah hukum, termasuk penembakan dan penjara, sebelum akhirnya beralih ke profesional pada usia 37 tahun. Kini, dengan rekor 25-0 dan 23 KO, ia menempati peringkat WBO dan WBA, meski belum masuk dalam daftar peringkat WBC edisi September. Peringkatnya diperkirakan akan naik pada rilis Oktober mendatang.
"Saya selalu percaya bahwa kerja keras akan membawa saya ke panggung ini," ujar Hysa dalam pernyataannya setelah kemenangan atas Narmo, seperti dikutip Fightnews.
Bagi Kabayel, laga ini bukan sekadar mempertahankan sabuk. Kemenangan spektakuler atas Hysa diyakini akan menjadi batu loncatan menuju duel unifikasi melawan juara IBF yang baru, Filip Hrgovic, pada 2027. Kabayel berharap bisa menyatukan sabuk juara dunia kelas berat, sebuah ambisi yang sudah lama ia canangkan.
Dari kacamata industri tinju, pertarungan ini menarik karena mempertemukan dua petinju dengan gaya bertarung berbeda. Kabayel dikenal memiliki pukulan tubuh yang mematikan dan ketahanan luar biasa, sementara Hysa mengandalkan kekuatan pukulan KO yang telah terbukti. Duel ini juga menjadi ujian bagi Hysa, yang belum pernah menghadapi lawan sekaliber Kabayel.
Bagi penggemar tinju di Indonesia, laga ini bisa menjadi tontonan menarik untuk mengukur kualitas petinju Eropa menjelang era baru kelas berat. Apalagi, beberapa petinju Indonesia seperti Daud Yordan dan Ongen Saknosiwi sempat mencoba peruntungan di kelas berat, meski dengan hasil beragam. Keberhasilan Hysa, yang memulai karier profesional di usia matang, bisa menjadi inspirasi bagi petinju Tanah Air yang ingin menempuh jalur serupa.
Pertanyaan besarnya, apakah Hysa mampu membuktikan bahwa status tak terkalahkannya bukan sekadar kebetulan? Atau justru Kabayel yang akan menunjukkan kelasnya sebagai juara sejati dan melangkah mulus menuju unifikasi? Jawabannya akan terungkap di atas ring Düsseldorf akhir November nanti.



