Video Viral Korban Hantavirus di Jakarta Terkonfirmasi Hoaks: Ini Asal-usulnya
Baca dalam 60 detik
- Sebuah video yang diklaim memperlihatkan korban hantavirus di Jakarta ternyata merupakan cuplikan dari serial Filipina, bukan rekaman asli.
- Polri melalui kanal resminya memastikan informasi tersebut tidak benar dan mengimbau masyarakat tidak menyebarluaskan konten serupa.
- Kasus ini menegaskan pentingnya verifikasi silang sebelum mempercayai konten kesehatan yang beredar di media sosial.

Video yang viral di Facebook dengan klaim memperlihatkan seorang wanita di Jakarta menjadi korban hantavirus—dengan mulut berbusa di atas kasur—dipastikan sebagai konten palsu. Rekaman tersebut bukanlah dokumentasi medis, melainkan bagian dari proses syuting serial drama Filipina.
Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui portal Tribratanews mengklarifikasi bahwa unggahan yang beredar sejak akhir pekan lalu itu tidak memiliki kaitan dengan kasus hantavirus di Indonesia. Berdasarkan penelusuran yang merujuk pada laporan Kompas.com, video yang digunakan merupakan cuplikan di balik layar (behind the scene) serial Wish Ko Lang episode Rabies yang diproduksi di Filipina. Adegan wanita berbusa di mulut adalah bagian dari efek khusus untuk kebutuhan cerita, bukan kondisi medis nyata.
Hantavirus sendiri adalah virus yang ditularkan melalui tikus dan dapat menyebabkan penyakit paru-paru berat, namun kasusnya sangat jarang ditemukan di Indonesia. Klaim bahwa virus ini telah menyebabkan korban di Jakarta langsung menimbulkan keresahan di masyarakat, mengingat dampak psikologis dari penyebaran informasi kesehatan yang salah. Kepanikan publik kerap dimanfaatkan oleh penyebar hoaks untuk meningkatkan engagement di media sosial.
Fenomena hoaks bermuatan kesehatan seperti ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, beredar pula klaim tentang vaksin palsu, obat ajaib, hingga wabah buatan yang sempat mengguncang kepercayaan publik. Dalam konteks Indonesia, rendahnya literasi digital dan kebiasaan meneruskan informasi tanpa verifikasi menjadi faktor utama maraknya konten menyesatkan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Polri terus mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip saring sebelum sharing.
Menurut analis keamanan siber, hoaks seperti ini tidak hanya merugikan secara sosial tetapi juga dapat mengganggu stabilitas layanan kesehatan. Ketika masyarakat panik, mereka cenderung membanjiri rumah sakit atau fasilitas kesehatan dengan pertanyaan yang tidak perlu, sehingga mengalihkan sumber daya dari pasien yang benar-benar membutuhkan. Oleh karena itu, klarifikasi cepat dari otoritas seperti yang dilakukan Polri menjadi krusial.
Ke depan, tantangan verifikasi konten kesehatan di media sosial akan semakin kompleks seiring dengan kemajuan teknologi deepfake dan editing video. Pertanyaan yang perlu diajukan: seberapa siap infrastruktur literasi digital Indonesia untuk menghadapi gelombang hoaks yang semakin realistis?



