Pelatih Pantai Gading Kecam Komentar 'Rasis' Schweinsteiger soal Gaya Bermain Afrika
Baca dalam 60 detik
- Manajer Pantai Gading, Emerse Fae, menyebut komentar Bastian Schweinsteiger tentang gaya bermain timnya yang 'liar' dan 'tidak taktis' sebagai bentuk bias rasial terhadap sepak bola Afrika.
- Schweinsteiger, saat menjadi komentator ARD sebelum laga Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026, mengatakan tim lawan bermain 'sedikit seperti sepak bola Afrika' dan 'kurang dipengaruhi taktik'.
- Fae menegaskan bahwa timnya telah membuktikan kemampuan teknis dan taktis dengan lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya, dan berharap komentar itu hanya ketidakcermatan.

Pelatih Pantai Gading, Emerse Fae, mengecam pernyataan legenda Jerman Bastian Schweinsteiger yang menyebut gaya bermain timnya 'liar' dan 'kurang taktis' sebagai bentuk stereotip rasial yang sudah lama melekat pada sepak bola Afrika. Kritik itu disampaikan Fae setelah timnya memastikan tiket ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah pencapaian yang menurutnya membantah anggapan tersebut.
Schweinsteiger, yang menjadi komentator untuk stasiun televisi Jerman ARD sebelum pertandingan Grup E antara Jerman dan Pantai Gading pada 20 Juni lalu, menyebut permainan lawannya sebagai 'sedikit sepak bola Afrika, sedikit tidak lazim, sedikit liar, dan mungkin juga tidak terlalu dipengaruhi taktik'. Pernyataan itu sontak memicu kontroversi di media Jerman dan dunia.
Menanggapi hal itu, Fae mengaku kecewa berat. "Saya pikir ini menyedihkan. Schweinsteiger adalah pemain hebat, saya selalu mengaguminya. Tapi ketika mendengar komentarnya, saya kecewa pada pribadinya. Aneh dia berbicara seperti itu. Kami bisa menyebutnya rasis, jika kita bicara terus terang," ujar Fae usai kemenangan 2-0 atas Curacao di Philadelphia yang memastikan posisi kedua Grup E.
Fae menegaskan bahwa komentar tersebut mencerminkan bias lama yang meremehkan sepak bola Afrika. "Saya tidak setuju dengannya. Satu-satunya cara saya melawan adalah dengan bekerja keras. Yang bisa saya tunjukkan adalah di lapangan, tim Afrika tidak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga teknis dan taktis. Saya hanya berharap ini pernyataan yang ceroboh, bukan sesuatu yang ada di pikirannya," tambahnya.
Komentar Schweinsteiger juga mendapat reaksi dari pelatih top dunia. Jurgen Klopp, yang hadir di New York sebagai bagian dari acara Piala Dunia, menolak menjawab pertanyaan terkait hal tersebut. "Kamu ingin melanjutkan topik ini? Tidak, tidak, saya tidak punya kesempatan untuk menjawab. Ini topik serius, dan saya bahkan tidak tahu apa yang pantas dikatakan. Bagi orang Afrika, ini satu hal, bagi orang lain, hal lain. Saya tidak di sini untuk itu," ujar Klopp dengan nada enggan.
Kontroversi ini membuka kembali diskusi tentang stereotip rasial dalam sepak bola, terutama terhadap tim-tim Afrika yang kerap dianggap hanya mengandalkan fisik tanpa kecerdasan taktik. Padahal, perkembangan sepak bola Afrika dalam satu dekade terakhir menunjukkan peningkatan signifikan, baik dari segi teknik maupun strategi. Pantai Gading sendiri adalah bukti nyata: mereka adalah juara Piala Afrika 2023 di bawah asuhan Fae.
Bagi publik Indonesia, isu ini relevan mengingat sepak bola Asia dan Afrika kerap mendapat label serupa. Timnas Indonesia pun sering dianggap 'kurang disiplin taktik' oleh pengamat luar. Komentar Schweinsteiger mengingatkan bahwa bias semacam itu masih hidup, dan perlu dilawan dengan prestasi di lapangan. Pantai Gading telah menunjukkan jalan: lolos ke fase gugur Piala Dunia adalah jawaban paling keras terhadap keraguan semacam itu.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah komentar seperti ini akan memicu perubahan dalam cara pandang media dan komentator terhadap sepak bola non-Eropa? Atau justru akan terus berulang selama tim-tim Afrika dan Asia belum konsisten bersaing di papan atas? Yang jelas, Fae dan anak asuhnya telah membuktikan bahwa sepak bola Afrika tidak bisa lagi diremehkan.



