Wall Street Terbelah: Nasdaq Tertekan Apple, Micron Melonjak Berkat AI
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nasdaq jatuh untuk sesi keempat berturut-turut setelah Apple mengumumkan kenaikan harga produk, sementara Micron melesat 15,8% berkat pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi.
- Kenaikan harga minyak mentah lebih dari 2% dipicu serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz, mengganggu prospek penurunan harga energi global.
- Data inflasi AS yang sesuai perkiraan mengurangi tekanan pada The Fed untuk menaikkan suku bunga, memberi ruang bagi investor beralih ke saham teknologi dan sektor lain.

Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan Kamis (25/6) dengan kinerja yang timpang: Nasdaq melanjutkan tren negatif untuk hari keempat, sementara Micron justru meroket berkat lonjakan permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, harga minyak mentah dunia kembali menguat setelah sebuah kapal kargo diserang di Selat Hormuz, mengancam stabilitas pasokan energi global.
Indeks berbasis teknologi itu tertekan oleh aksi jual saham Apple yang ambles 6,2% setelah raksasa teknologi itu mengumumkan kenaikan harga jual laptop, tablet, dan produk lainnya. Apple beralasan bahwa lonjakan biaya memori dan penyimpanan—yang dipicu oleh maraknya pengembangan AI—memaksa perusahaan menyesuaikan harga. Langkah ini langsung direspons negatif investor, mengingat Apple selama ini dikenal sebagai salah satu saham paling stabil di Wall Street.
Tekanan juga datang dari Eropa. Komisioner Antitrust Uni Eropa, Teresa Ribera, menyatakan bahwa Amazon dan Microsoft harus menghadapi aturan kompetisi digital yang lebih ketat karena dominasi mereka di pasar komputasi awan. Pernyataan itu membuat saham kedua perusahaan ikut terperosok, bersama dengan anggota lain dari kelompok "Magnificent Seven"—meski dengan persentase penurunan yang lebih kecil.
Namun, di tengah pelemahan sektor teknologi, Micron Technology menjadi bintang. Perusahaan semikonduktor itu melaporkan laba US$28,2 miliar dari pendapatan US$41,5 miliar—angka yang mengejutkan pasar dan menegaskan kuatnya permintaan akan chip untuk pusat data AI. Saham Micron melonjak 15,8%, mendorong indeks Kospi Korea Selatan naik lebih dari 5% dan Nikkei Tokyo melompat 4,6% pada sesi berikutnya.
Dari sisi makroekonomi, data produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama AS direvisi naik menjadi 2,1%, sementara inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Mei tercatat 4,1% secara tahunan—level tertinggi dalam tiga tahun. Meski demikian, analis menilai angka tersebut tidak mengejutkan pasar. "Tidak adanya kejutan positif memberi investor kesempatan untuk fokus pada katalis jangka pendek, termasuk penguatan saham teknologi berkat pendapatan Micron yang luar biasa," ujar Bret Kenwell, analis investasi eToro.
Di luar sektor teknologi, saham Caterpillar melesat 6,3%—tanda bahwa rotasi ke sektor industri mulai terjadi. Sementara itu, Bayer melonjak 18,7% setelah Mahkamah Agung AS memenangkan perusahaan farmasi dan agrikultur Jerman itu dalam gugatan berkepanjangan terkait klaim bahwa herbisida Roundup menyebabkan kanker. Ford juga naik 2% setelah survei kualitas konsumen menempatkannya sebagai merek massal terbaik dalam 90 hari pertama kepemilikan.
Bagi Indonesia, pergerakan Wall Street dan harga minyak memiliki implikasi langsung. Kenaikan harga minyak berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan mempengaruhi nilai tukar rupiah. Sementara itu, lonjakan saham teknologi global bisa mendorong minat investor asing ke saham-saham teknologi dalam negeri, meski risiko dari kebijakan antitrust Eropa perlu diwaspadai. Pertanyaannya, akankah rotasi sektor di AS juga terjadi di bursa Indonesia, atau justru tekanan inflasi global akan membuat Bank Indonesia lebih hati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya?



