TNI Beri Hukuman Fisik Peserta Latihan Militer Pengelola Kopdes: Push Up hingga Dilarang Makan
Baca dalam 60 detik
- Komandan Batalyon Latihan Marinir mengakui pemberian hukuman fisik seperti push up bagi peserta latsarmil yang terlambat apel atau tidak ikut makan bersama.
- Hukuman disesuaikan dengan kemampuan fisik peserta, bukan standar prajurit, dan bertujuan menanamkan disiplin serta ketertiban.
- Sebanyak 674 calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih menjalani pendidikan militer selama 1,5 bulan di Cilandak, termasuk latihan menembak.

TNI Angkatan Laut melalui Korps Marinir memberikan hukuman fisik berupa push up hingga larangan mengikuti makan bersama kepada peserta Latihan Dasar Militer (Latsarmil) yang melanggar aturan, seperti terlambat apel pagi. Langkah ini diambil untuk menanamkan kedisiplinan tinggi bagi para calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih.
Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, menjelaskan bahwa hukuman fisik diberikan secara proporsional. "Contoh saat apel pagi, mereka terlambat mungkin karena ketiduran, kita berikan hukuman push up 10 atau 15 kali," ujarnya di markas Marinir, Cilandak, Jakarta Timur, Kamis (25/6). Hukuman juga diterapkan bagi peserta yang tidak mengikuti makan bersama, karena aktivitas tersebut dianggap vital untuk menjaga kebugaran fisik.
Menurut Agus, hukuman ini tidak dimaksudkan untuk menyamai standar prajurit, melainkan sebagai alat pembentukan karakter. "Kita berikan hukuman supaya besok tidak mengulang lagi," tegasnya. Selain hukuman, peserta berprestasi juga mendapat penghargaan untuk memotivasi semangat belajar. Seluruh rangkaian pendidikan dilaporkan berjalan aman dan kondusif.
Program Latsarmil ini merupakan bagian dari persiapan pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih, yang digagas pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa. Peserta tidak hanya mendapat materi baris-berbaris, tetapi juga latihan menembak dengan senjata yang disediakan personel Marinir. "Di minggu ketiga kita akan melatih menembak perorangan, agar mereka punya dasar-dasar militer sebagai bekal penugasan," kata Agus.
Bagi peserta yang memiliki riwayat kesehatan kronis, pihak pelatih telah melakukan pemisahan sejak awal. Data kesehatan diperoleh dari pemeriksaan sebelum latihan. Mereka yang memiliki masalah kesehatan berat tidak diikutsertakan dalam aktivitas fisik lapangan, melainkan mengikuti materi di dalam kelas. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan dan kesehatan peserta tetap terjaga.
Ke depannya, TNI berharap para lulusan Latsarmil mampu menerapkan nilai-nilai kedisiplinan dan nasionalisme dalam mengelola koperasi desa. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana metode militer ini efektif membentuk manajer koperasi yang profesional di tengah tuntutan modernisasi ekonomi pedesaan.



