Indonesia Kunci 19 Medali di Kejuaraan Sepatu Roda China-ASEAN 2026: Dominasi Emas Jadi Modal Asian Games?
Baca dalam 60 detik
- Kontingen Indonesia memborong 19 medali di ajang Belt and Road China-ASEAN Speed Roller Skating Championships 2026, dengan 14 di antaranya emas.
- Athaya Rizky Prasetya dan Disna Ayu Luhutia menjadi bintang utama dengan masing-masing tiga emas, menegaskan kedalaman skuat senior.
- Prestasi ini menjadi sinyal positif bagi pembinaan atlet sepatu roda nasional menjelang Asian Games 2026, meski tantangan regenerasi dan kompetisi internasional menanti.

Tim sepatu roda Indonesia mempersembahkan 19 medali dari Kejuaraan Belt and Road China-ASEAN Speed Roller Skating Championships 2026 yang berlangsung di Dehua County, Quanzhou, China, 7-9 Agustus. Dengan rincian 14 emas, empat perak, dan satu perunggu, capaian ini menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan utama di kawasan Asia Tenggara sekaligus memberi sinyal kesiapan menuju Asian Games 2026.
Prestasi ini bukan sekadar angka. Di lintasan sepatu roda, dominasi Indonesia terlihat nyata: dari total 14 emas, hampir seluruh nomor yang dipertandingkan berhasil diamankan. PB Porserosi, induk organisasi sepatu roda nasional, menyambut hasil ini dengan optimisme. Dalam pernyataan resminya, mereka menekankan semangat untuk terus berprestasi dan mengharumkan nama bangsa. Namun, di balik euforia, ada pertanyaan besar: apakah konsistensi ini mampu dipertahankan di panggung yang lebih bergengsi?
Perhatian utama tertuju pada Athaya Rizky Prasetya, yang memborong tiga emas di nomor Senior Men 200 meter, 500m+D, dan 1.000 meter. Ia juga menjadi bagian dari tim relay putra yang meraih emas. Di sektor putri, Disna Ayu Luhutia tampil tak kalah gemilang dengan tiga emas di nomor 500m+D, 1.000 meter, dan 5.000 meter points. Keduanya membuktikan bahwa Indonesia memiliki atlet kelas dunia di level senior, sebuah modal berharga untuk menghadapi kompetisi internasional yang lebih ketat.
Kategori junior juga menjadi ladang emas. Devina Dwi Aprilia, Nafeeza Lamarch D N, dan Dafian Putra Purnama masing-masing menyumbangkan dua emas. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pembinaan usia dini berjalan efektif. Namun, analis olahraga menilai regenerasi ini perlu diimbangi dengan peningkatan jam terbang internasional. Sebab, lawan-lawan seperti China dan Korea Selatan kerap tampil lebih agresif di ajang Asia.
Bagi Indonesia, capaian ini memiliki arti strategis. Selain membangun kepercayaan diri atlet, hasil ini menjadi bahan evaluasi bagi PB Porserosi untuk memetakan kekuatan dan kelemahan tim. Dengan Asian Games 2026 yang akan digelar di Aichi-Nagoya, Jepang, prestasi ini bisa menjadi fondasi untuk menargetkan medali di ajang multi-event tersebut. Namun, tantangan besar menanti: persaingan akan jauh lebih sengit, dan persiapan fisik serta mental harus ditingkatkan.
Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah. Dari empat perak yang diraih, Fatahilah Rajawali CP menyumbang dua di nomor Senior Men 5.000 meter points dan 1.000 meter, sementara Lalu Dafa Maulana meraih dua perak di nomor 200 meter dan 500m+D. Perunggu tunggal datang dari Nafeeza Lamarch D N di Junior Women 1.000 meter. Catatan ini menunjukkan bahwa di nomor-nomor jarak menengah dan teknik tertentu, Indonesia masih perlu meningkatkan konsistensi.
Kejuaraan yang digelar di lintasan Dehua County Teacher Training School Affiliated Primary School ini juga menjadi ajang uji coba bagi atlet-atlet muda. Lalu Dafa Maulana, misalnya, berhasil mengoleksi satu emas dan dua perak, mencuri perhatian sebagai salah satu bakat menjanjikan. Dengan pengalaman seperti ini, diharapkan para atlet semakin matang menghadapi tekanan kompetisi.
Ke depan, PB Porserosi perlu merancang program pembinaan yang lebih terstruktur, termasuk peningkatan frekuensi keikutsertaan di turnamen internasional. Pertanyaannya, apakah pemerintah dan stakeholder olahraga akan memberikan dukungan yang memadai? Jika ya, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi langganan podium di Asian Games dan kejuaraan dunia. Namun, jika tidak, prestasi ini hanya akan menjadi kilasan sesaat.



