Tobi Lawal, Pemain Inggris yang Bertekad 'Tinggal di Gym' demi NBA
Baca dalam 60 detik
- Tobi Lawal, pemain asal London, terpilih di ronde kedua NBA Draft 2025 oleh Dallas Mavericks, menandai langkah besar bagi basket Inggris.
- Lawal, yang baru bermain basket kompetitif sejak usia 16 tahun, berjanji akan memaksimalkan fasilitas latihan untuk mengasah kemampuannya.
- Kesuksesan Lawal diharapkan menginspirasi generasi muda Inggris dan Indonesia untuk mengejar mimpi di basket, meski tantangan akses lapangan masih ada.

Pemain basket asal Inggris, Tobi Lawal, bertekad untuk 'tinggal di gym' setelah namanya dipilih oleh Dallas Mavericks pada ronde kedua NBA Draft 2025. Pemain berusia 23 tahun ini menjadi salah satu dari sedikit atlet Britania Raya yang berhasil menembus liga basket paling bergengsi di dunia, membawa harapan baru bagi perkembangan basket di Eropa dan sekitarnya.
Lawal, yang bertinggi 6 kaki 8 inci (sekitar 2,03 meter), memulai karier basket kompetitifnya terlambat, yakni pada usia 16 tahun. Ia mengasah kemampuannya di City of London Academy sebelum pindah ke sekolah menengah di Maine, Amerika Serikat. Dua tahun pertamanya di level perguruan tinggi ia habiskan di Virginia Commonwealth University, sebelum menjadi starter di Virginia Tech. Sebagai pemain ronde kedua, Lawal dianggap sebagai 'proyek' yang perlu dikembangkan, dan ia menyadari hal itu. "Saya akan hidup di gym," ujarnya, menekankan komitmennya untuk terus belajar dan meningkatkan permainan.
Kisah Lawal menjadi inspirasi, terutama di Inggris, di mana akses ke fasilitas basket seringkali terbatas. "Di London sulit untuk masuk ke gym. Sekarang gym ada di sebelah rumah saya. Saya suka berada di gym. Saya suka pertumbuhan—sebagai pribadi, dalam iman, dan sebagai pemain. Sekarang saya bisa melakukannya, saya akan tinggal di sana," kata Lawal. Pernyataan ini mencerminkan perjuangan banyak pemain muda di negara dengan infrastruktur basket yang belum semaju Amerika Serikat.
NBA Draft tahun ini juga mencatat sejumlah pergerakan menarik. Washington Wizards memilih AJ Dybantsa sebagai pilihan pertama, sementara Giannis Antetokounmpo dikabarkan akan bergabung dengan Miami Heat dalam perdagangan besar. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa basket global semakin kompetitif. Dengan semakin banyaknya pemain internasional yang sukses di NBA, termasuk dari Asia, peluang bagi pemain Indonesia untuk bermimpi ke panggung dunia pun terbuka. Namun, tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan program pembinaan usia dini masih menjadi pekerjaan rumah.
Menurut analis basket internasional, kesuksesan Lawal menunjukkan bahwa bakat dapat muncul dari mana saja, asalkan ada dedikasi dan akses ke pelatihan yang tepat. "Ini adalah bukti bahwa kerja keras dan lingkungan yang mendukung dapat mengubah seorang pemula menjadi prospek NBA," ujar seorang pengamat. Bagi Indonesia, pelajaran berharga dapat diambil: investasi pada pembinaan usia muda dan fasilitas latihan yang memadai adalah kunci untuk melahirkan bakat-bakat baru.
Ke depan, Lawal akan fokus pada pengembangan fisik dan pemahaman taktik. Dengan etos kerja yang ia tunjukkan, bukan tidak mungkin ia akan menjadi pemain reguler di NBA. Pertanyaannya, mampukah ia menginspirasi lahirnya lebih banyak pemain Inggris, dan bahkan Indonesia, untuk mengikuti jejaknya?