Pemain Top Wimbledon Protes Lagi: Hadiah Naik 20% Tak Cukup, Tuntut 16% Pendapatan
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner dan Aryna Sabalenka memimpin aksi batasi wawancara di Wimbledon sebagai bentuk protes atas alokasi hadiah yang dianggap belum adil.
- Para pemain menuntut 16% pendapatan turnamen untuk prize money, naik bertahap hingga 22% pada 2030, plus tambahan dana pensiun dan kesehatan.
- Wimbledon menaikkan hadiah 20% menjadi £64,2 juta, tetapi masih kurang £7 juta dari target pemain; negosiasi bisa berujung ancaman mogok.

Pemain tenis papan atas dunia kembali menggelar aksi protes di Wimbledon, kali ini dengan membatasi durasi wawancara media sebagai bentuk tekanan agar panitia meningkatkan porsi hadiah dari pendapatan turnamen. Langkah ini diambil meskipun All England Club (AELTC) baru saja mengumumkan kenaikan prize money sebesar 20 persen—rekor tertinggi dalam sejarah kejuaraan.
Petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner dan Aryna Sabalenka, menjadi motor aksi yang membatasi sesi wawancara menjadi maksimal 15 menit selama pekan pertama turnamen. Menurut Sinner, persoalan ini bukan sekadar soal uang, melainkan “masalah rasa hormat” terhadap kontribusi pemain dalam mendongkrak pendapatan turnamen. Sabalenka menambahkan, kedua belah pihak perlu duduk bersama untuk mencari solusi yang saling menguntungkan.
Di balik aksi ini, tuntutan utama para pemain adalah agar Grand Slam mengalokasikan 16 persen dari total pendapatan untuk prize money pada tahun ini, dan secara bertahap naik menjadi 22 persen pada 2030. Angka itu, menurut perhitungan mereka, lebih mencerminkan nilai yang mereka bawa ke turnamen. Sebagai perbandingan, jika pendapatan Wimbledon tahun lalu sebesar £427 juta disesuaikan dengan inflasi, maka 16 persen dari angka itu setara dengan lebih dari £70 juta—jauh di atas prize money tahun ini yang hanya £64,2 juta.
Selain soal porsi pendapatan, para pemain juga mendesak peningkatan kontribusi turnamen untuk dana pensiun, asuransi kesehatan, dan tunjangan maternitas. Mereka juga ingin dilibatkan lebih dalam dalam pengambilan keputusan terkait jadwal pertandingan, larut malam, dan perpanjangan turnamen. Di sisi lain, AELTC berargumen bahwa pendapatan kotor tidak mencerminkan biaya operasional yang besar, termasuk investasi infrastruktur, turnamen pemanasan, dan program pengembangan pemain. Klub telah menghabiskan lebih dari £60 juta untuk mendukung turnamen rumput sejak 2019, serta membangun pusat kebugaran dan ruang pemulihan di Millennium Building.
Protes serupa sebenarnya sudah terjadi di French Open, di mana pemain membatasi wawancara sebagai simbol 15 persen pendapatan yang saat ini dialokasikan untuk prize money. Di Australia, kenaikan 16 persen telah diberikan, sementara US Open yang akan berlangsung akhir Agustus masih dalam tahap negosiasi. Langkah para pemain di Wimbledon dinilai “tidak peka” oleh komentator BBC Andrew Castle, terutama setelah AELTC memberikan kenaikan tahunan terbesar. Namun, bagi para pemain, kenaikan itu belum cukup karena mereka menuntut perubahan struktural, bukan sekadar tambahan tahunan.
Bagi publik, sulit bersimpati ketika petenis yang kalah di babak pertama saja sudah membawa pulang £80.000—jauh di atas rata-rata kenaikan gaji pekerja Inggris yang hanya 3,4 persen. Namun, para pemain merasa posisi mereka semakin kuat. Mereka yakin dapat terus menekan tanpa harus membayar denda, karena aksi mereka masih dalam batas aturan Grand Slam. Pertanyaan besarnya: akankah negosiasi mencapai titik temu, atau justru berujung pada ancaman mogok massal yang lebih serius?



