AI dan Global South Jadi Motor Inovasi Baru di Tengah Fragmentasi Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- Presiden WEF menyebut krisis geopolitik justru memacu adopsi teknologi, terutama di sektor energi dan kesehatan.
- Negara berkembang di Global South memiliki peluang melompat karena tidak terbebani industri lama, namun terkendala pendanaan dan kesiapan budaya.
- Ketergantungan Asia pada impor energi Timur Tengah dan lonjakan permintaan listrik AI menjadi tantangan sekaligus peluang transformasi sistem energi.

Fragmentasi ekonomi global dan ketegangan geopolitik yang meningkat justru mendorong percepatan inovasi teknologi, dengan kecerdasan buatan (AI) dan negara-negara Global South menjadi motor utama gelombang baru ini. Demikian pandangan Presiden World Economic Forum (WEF) Alois Zwinggi dalam pidato di akhir pertemuan Summer Davos di Dalian, China, Kamis (25/6).
Menurut Zwinggi, konflik seperti yang terjadi di Timur Tengah tidak lagi dipandang sebagai penghambat, melainkan katalis yang memaksa pemerintah dan perusahaan untuk segera menerapkan teknologi dari laboratorium ke kehidupan nyata. “Inovasi tidak boleh hanya tinggal di lab, tetapi harus berdampak positif pada kehidupan kita,” ujarnya. Pertemuan tahunan yang dihadiri lebih dari 1.700 pemimpin pemerintahan, bisnis, dan akademisi itu membahas masa depan pertumbuhan di tengah pergeseran rantai pasok dan persaingan ekonomi antarnegara besar.
Zwinggi menyoroti keunggulan negara-negara berkembang yang tidak memiliki beban industri lama. “Mereka bisa langsung membangun industri baru dari nol, tanpa harus mengamortisasi investasi masa lalu. Ini memberi potensi lompatan besar,” katanya. Namun, ia mengakui hambatan utama tetap pada pendanaan inovasi skala besar dan kesiapan budaya masyarakat dalam menerima serta mengambil risiko terhadap teknologi baru. Eropa, Amerika Latin, dan Afrika dinilai masih tertinggal dalam ekosistem pendanaan dibanding China dan Amerika Serikat.
Di sektor energi, Wakil Ketua Wood Mackenzie untuk Asia Pasifik, Joshua Ngu, mengingatkan bahwa konflik Timur Tengah kembali memperlihatkan kerentanan Asia terhadap guncangan pasokan. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global berasal dari Timur Tengah, namun separuh impor minyak Asia bergantung pada kawasan itu. Menurut Ngu, tantangan jangka panjang bukan sekadar mengamankan pasokan, melainkan menyeimbangkan keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan. Di sisi lain, pertumbuhan pesat permintaan listrik akibat AI membuka peluang besar sekaligus tantangan bagi sistem ketenagalistrikan. Ia mencontohkan China sebagai model sistem energi tangguh, namun menekankan setiap negara harus menemukan jalannya sendiri, termasuk melalui proyek ASEAN Power Grid yang kini kembali mendapat momentum.
Dalam bidang kesehatan, konvergensi AI dan bioteknologi menjadi sorotan. Industri biotek China berkembang pesat dengan kesepakatan lisensi lintas batas, namun menurut CEO SBP Group Eric Tse, perusahaan-perusahaan China masih membangun jaringan distribusi global. “Kami sudah punya pipeline global, tapi belum distribusi global. Kolaborasi adalah kunci,” ujarnya. Profesor Ren Minghui dari Peking University mengingatkan agar tidak berlebihan menilai kemajuan China. “Kami masih kecil di komunitas biotek global. Meski laju pertumbuhan cepat, pangsa kami masih sangat kecil,” katanya. Namun, ia optimistis dalam 10 tahun ke depan China bisa melahirkan perusahaan biotek berpengaruh global, didukung populasi besar, biaya uji klinis rendah, dan dukungan pemerintah.
Ren juga memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik, khususnya regulasi AS yang membatasi kerja sama riset dengan China, menjadi risiko terbesar. “Pengembangan obat dan vaksin bergantung pada uji klinis multinegara. Tanpa itu, produk sulit diakui regulator negara lain,” jelasnya. Meski demikian, Zwinggi menutup forum dengan optimisme. “Berinteraksi dengan lebih dari 100 perusahaan di garis depan teknologi membuat Anda tidak bisa tidak merasa optimis,” pungkasnya.
Bagi Indonesia, pesan dari Dalian ini relevan. Sebagai bagian dari Global South, Indonesia memiliki peluang untuk melompat dalam adopsi AI dan energi terbarukan, asalkan mampu mengatasi hambatan pendanaan dan kesiapan sumber daya manusia. Pertanyaan besarnya: apakah ekosistem inovasi Indonesia sudah cukup matang untuk menarik investasi dan kolaborasi lintas batas di tengah persaingan global yang semakin ketat?



