Gus Ipul Ajak SP2MI Jadi Garda Depan Penjangkauan Anak Putus Sekolah Lewat Sekolah Rakyat
Baca dalam 60 detik
- Mensos Saifullah Yusuf mendorong SP2MI berperan aktif dalam pemutakhiran data dan penjangkauan anak-anak yang belum tersentuh pendidikan.
- Program Sekolah Rakyat mengedepankan penjangkauan langsung ke keluarga miskin ekstrem, bukan sistem pendaftaran terbuka.
- Kolaborasi dengan 30 ribu pendamping PKH di seluruh Indonesia diharapkan memperkuat sinergi Kemensos dan organisasi pendidikan masyarakat.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, meminta Serikat Penggerak Pendidikan Masyarakat Indonesia (SP2MI) turun tangan menjangkau anak-anak yang belum mengenyam pendidikan, termasuk melalui program unggulan Sekolah Rakyat. Ajakan itu disampaikan dalam Silaturahmi Nasional SP2MI 2026 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (25/6).
Gus Ipul menekankan bahwa persoalan anak tidak sekolah masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data pemerintah mencatat lebih dari empat juta anak usia sekolah belum terdaftar dalam sistem pendidikan formal. Angka itu mencakup mereka yang tidak pernah sekolah, putus sekolah, maupun yang berisiko keluar dari bangku sekolah.
“Saya mengundang Bapak-Ibu sekalian untuk ikut terlibat dalam pemutakhiran data. Jika ada peserta didik yang ditemukan belum masuk data, bisa dibantu melalui saluran yang sudah kami buat,” ujar Gus Ipul di hadapan para pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan PAUD swadaya dari 12 provinsi.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul mengapresiasi dedikasi para pegiat pendidikan yang selama ini aktif mendampingi anak-anak marginal. Ia menyebut mereka sebagai “pejuang pendidikan” yang memilih jalan hidup membantu menyisir anak-anak usia sekolah yang tidak terlayani.
Gus Ipul menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto memberikan tiga mandat strategis kepada Kemensos: pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), penyaluran bansos tepat sasaran, dan penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Seluruh program itu harus dimulai dengan data akurat agar intervensi pemerintah benar-benar menjangkau yang membutuhkan.
Yang membedakan, Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran umum. “Kami tidak membuka pendaftaran, tapi melakukan penjangkauan kepada mereka yang berada di desil 1 dan 2 — keluarga paling miskin,” tegas Gus Ipul. Karena itu, jaringan SP2MI yang memiliki pengalaman menjangkau anak-anak di luar sistem formal dinilai strategis untuk menemukan dan mendampingi calon siswa.
Gus Ipul berharap sinergi antara Kemensos dan SP2MI diperkuat melalui kolaborasi dengan pendamping PKH. “Kami punya 30 ribu lebih pendamping PKH di seluruh Indonesia. Saya ingin ke depan teman-teman bisa bekerja sama dengan mereka,” katanya. Ia juga membuka peluang kerja sama lebih luas, termasuk menyinergikan program dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.
Ketua Umum SP2MI Amirudin menyambut positif ajakan tersebut. Menurutnya, organisasinya memiliki visi yang sama dengan Kemensos dalam memperluas akses pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. SP2MI selama ini fokus pada pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C serta keterampilan di PKBM. “Kami berharap bisa menjadi mitra Kemensos dalam keterampilan dan pemberdayaan anak-anak,” ujar Amirudin.
Acara ditutup dengan penyerahan pin kartu peserta istimewa kepada Gus Ipul. Ratusan peserta secara serentak menyerukan tiga nilai utama Sekolah Rakyat: “Menjangkau yang Tidak Terjangkau, Memungkinkan yang Tidak Mungkin, dan Memuliakan Wong Cilik.” Pertanyaan selanjutnya, sejauh mana kolaborasi ini mampu menekan angka anak putus sekolah yang masih menggunung?



