Titus Welliver: CGI Bikin Syuting The Westies di Kanada Tak Terdeteksi
Baca dalam 60 detik
- Aktor Titus Welliver memuji teknologi CGI yang membuat lokasi syuting The Westies di Toronto, Kanada, tampak seperti New York asli.
- Serial kriminal era 1980-an ini menampilkan transformasi fisik dan karakter Welliver yang kontras dengan perannya sebagai detektif Bosch.
- The Westies dijadwalkan tayang perdana di MGM+ pada 12 Juli, mengangkat kisah geng Westies yang jarang diangkat ke layar.

Titus Welliver, aktor yang dikenal lewat perannya sebagai detektif Harry Bosch, yakin penonton tidak akan menyadari bahwa serial The Westies yang dibintanginya difilmkan di Kanada, bukan di New York. Menurutnya, kecanggihan CGI dan tata set berhasil menciptakan ilusi visual yang nyaris sempurna.
Dalam sebuah wawancara di pemutaran perdana The Westies di London, Welliver mengungkapkan bahwa ia bahkan menduga teman-temannya akan mengira produksi menggunakan cuplikan berita arsip asli. "Padahal semuanya diciptakan oleh komputer dan AI," ujarnya. Serial ini mengisahkan geng Westies yang menguasai New York pada 1980-an, masa ketika kota tersebut dilanda krisis keuangan, merebaknya epidemi crack, dan pandemi AIDS.
Welliver memerankan Glenn Keenan, karakter yang ia deskripsikan sebagai kebalikan dari Harry Bosch. "Bosch memiliki kompas moral yang sempurna, sementara Keenan adalah manusia yang rusak secara internal, brutal, korup, dan sangat kejam," jelas aktor berusia 64 tahun itu. Perbedaan ini membuatnya antusias, terutama karena ia harus melakukan transformasi fisik untuk menjauh dari citra Bosch.
Welliver, yang tumbuh di New York, mengaku sangat teliti menjaga realisme cerita. Ia bahkan mengenal beberapa anggota geng Westies asli. "Saya bisa mencium baunya saat menonton hasil akhirnya," katanya. Menurutnya, serial ini menawarkan perspektif baru tentang kriminalitas Amerika yang selama ini didominasi oleh mafia Italia dalam film-film Martin Scorsese, atau geng jalanan Inggris seperti di Peaky Blinders.
Bagi penonton Indonesia, The Westies bisa menjadi tontonan yang memperkaya wawasan tentang sejarah kelam New York. Meski berlatar budaya yang jauh, tema kehancuran sosial akibat kemiskinan dan narkoba tetap relevan dengan realitas urban di berbagai belahan dunia. Apakah serial ini mampu menyamai popularitas Peaky Blinders atau justru tenggelam di antara deretan tayangan kriminal lainnya? Publik akan menilai saat premiernya bulan depan.



