Bungie PHK Massal Tim Destiny 2, Sony Restrukturisasi Studio Game
Baca dalam 60 detik
- Bungie melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran, hampir seluruh tim Destiny 2 terdampak, sebagai bagian dari restrukturisasi yang diumumkan Sony.
- Presiden PlayStation Studios menyebut langkah ini 'perlu' dan menegaskan game Marathon tetap menjadi prioritas dalam katalog PlayStation.
- Keputusan ini mencerminkan tekanan industri game global yang juga berimbas pada pengembang di Indonesia dan Asia Tenggara.

Bungie, studio di balik waralaba game populer Destiny 2, mengumumkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang memengaruhi hampir seluruh tim pengembangan game tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar yang dikoordinasikan oleh Sony Interactive Entertainment (SIE), induk perusahaan yang mengakuisisi Bungie pada 2022.
Dalam memo internal yang bocor ke publik, Hermen Hulst, presiden PlayStation Studios, mengonfirmasi bahwa hampir seluruh anggota tim Destiny 2 terkena dampak PHK. Sejumlah kecil karyawan yang menggarap proyek baru, termasuk game tembak-menembak bertajuk Marathon, juga ikut terdampak. Hulst menyebut restrukturisasi ini sebagai langkah yang "perlu" untuk menjaga keberlanjutan studio di tengah perubahan lanskap industri game.
Bungie secara resmi mengumumkan PHK ini melalui pernyataan di media sosial, meski tidak merinci jumlah pasti karyawan yang diberhentikan. Dalam pernyataannya, Bungie mengakui bahwa Destiny 2 "gagal memenuhi ekspektasi" dalam beberapa tahun terakhir. "Setelah pembaruan konten terakhir untuk Destiny 2, dan dengan proyek-proyek masa depan kami yang masih dalam tahap awal pengembangan, kami tidak dapat terus beroperasi dengan ukuran tim seperti sebelumnya," tulis Bungie.
Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi komunitas penggemar Destiny 2 yang telah setia mengikuti game tersebut sejak dirilis pada 2014. Banyak pemain khawatir bahwa PHK massal ini akan memengaruhi kualitas dan frekuensi pembaruan konten di masa depan. Bungie sendiri belum memberikan jadwal pasti kapan mereka akan mengungkapkan rencana jangka panjang untuk waralaba tersebut.
Dari sisi bisnis, langkah Sony merestrukturisasi Bungie menunjukkan bahwa akuisisi senilai 3,6 miliar dolar AS belum memberikan hasil yang diharapkan. Meski demikian, Hulst menegaskan bahwa Marathon tetap menjadi "bagian penting" dari katalog PlayStation. Game tersebut dijadwalkan rilis pada 2025 dan diharapkan menjadi andalan baru Bungie.
Fenomena PHK di industri game global juga berdampak pada ekosistem pengembangan game di Indonesia. Beberapa studio game lokal yang bekerja sama dengan penerbit internasional mulai merasakan tekanan untuk menekan biaya operasional. "Ini adalah pengingat bahwa industri game sangat fluktuatif. Bahkan studio besar seperti Bungie pun tidak kebal terhadap restrukturisasi," ujar seorang analis industri game dari Asosiasi Game Indonesia (AGI) yang enggan disebut namanya.
Ke depan, Bungie dihadapkan pada tantangan besar: mempertahankan basis pemain Destiny 2 yang terus menurun sambil mengembangkan Marathon dan proyek-proyek baru lainnya. Pertanyaan yang menggantung adalah apakah Sony akan terus mendukung Bungie dengan investasi penuh, atau justru akan mengintegrasikan studio tersebut lebih dalam ke dalam struktur PlayStation Studios.



