Sir Rod Stewart Akui Langgar Etika: Konser Batal, Tetap Nonton Piala Dunia Demi Anak
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi legendaris Rod Stewart membatalkan konser di California karena radang tenggorokan, namun keesokan harinya terbang ke Boston untuk menyaksikan Skotlandia bertanding di Piala Dunia.
- Stewart mengaku keputusannya 'tidak elok' dan mendapat kecaman keras dari penggemar yang merasa dikhianati, terutama mereka yang sudah mengeluarkan biaya perjalanan dan akomodasi.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang prioritas artis terhadap penggemar versus komitmen pribadi, serta dampaknya terhadap citra publik di era media sosial.

Sir Rod Stewart, vokalis legendaris berusia 81 tahun, secara terbuka mengakui bahwa dirinya membuat keputusan yang 'tidak elok' ketika tetap nekat menonton pertandingan Piala Dunia sehari setelah membatalkan konser di California karena sakit. Pengakuan ini muncul setelah gelombang kritik dari penggemar yang merasa dikhianati oleh sang idola.
Kontroversi bermula pada 12 Juni lalu, ketika Stewart terpaksa membatalkan pertunjukan di San Diego hanya beberapa jam sebelum panggung dimulai. Diagnosis radang tenggorokan (laryngitis) disebut sebagai penyebabnya. Namun, keesokan harinya, ia mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan dirinya bersama dua putranya, Liam (31) dan Alistair (20), menaiki jet pribadi menuju Boston untuk menyaksikan tim kesayangannya, Skotlandia, berlaga melawan Haiti di Piala Dunia.
Dalam wawancara dengan talkSport, Stewart mengaku bahwa ia tidak tega mengecewakan anak-anaknya. "Saya berjanji kepada mereka sejak lahir bahwa kami akan pergi ke Piala Dunia. Ini yang pertama kali terwujud. Saya akui itu bukan pemandangan yang bagus, tapi saya harus menerima kritik. Saya lakukan ini demi anak-anak," ujarnya.
Keputusan Stewart sontak memicu reaksi keras di kolom komentar. Seorang penggemar menulis, "Terlalu sakit untuk tampil, tapi cukup sehat untuk terbang melintasi negara demi sepak bola?" Penggemar lain menyebut tindakan Stewart 'tidak peka' dan 'meremehkan' ribuan orang yang telah mengeluarkan biaya perjalanan, hotel, dan tiket untuk menyaksikan konsernya. "Banyak yang datang dari jauh, mengambil cuti kerja, lalu melihat Anda bersenang-senang di pesawat keesokan harinya. Ini sangat mengecewakan," tulis seorang netizen.
Bagi penggemar di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara artis dan penggemar bersifat timbal balik. Di era media sosial, setiap langkah publik figur diawasi ketat. Keputusan yang dianggap tidak konsisten—seperti membatalkan konser karena sakit namun tetap bepergian untuk hiburan—dapat dengan cepat merusak reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun. Stewart, yang telah malang melintang di industri musik selama lebih dari lima dekade, kini harus menghadapi konsekuensi dari pilihan pribadinya.
Meskipun Stewart telah meminta maaf dan menjelaskan alasannya, pertanyaan besar tetap menggantung: akankah para penggemar yang kecewa kembali memaafkannya? Ataukah insiden ini akan menjadi noda permanen dalam karier seorang legenda? Yang jelas, pelajaran berharga tentang pentingnya empati dan konsistensi antara kata dan tindakan kembali terukir dalam panggung hiburan global.



