UEFA Angkat Stephanie Frappart ke Komite Wasit, Sejarah Baru di Sepak Bola Eropa
Baca dalam 60 detik
- Stephanie Frappart resmi menjabat sebagai pejabat wasit di komite wasit UEFA, menangani pengembangan dan penunjukan wasit untuk kompetisi Eropa.
- Wasit asal Prancis ini telah mencatatkan sejumlah pencapaian bersejarah, termasuk memimpin laga Piala Dunia pria 2022 dan final Liga Champions Wanita.
- Penunjukan ini menandai langkah maju dalam kesetaraan gender di sepak bola, dengan implikasi bagi pengembangan wasit wanita di Asia, termasuk Indonesia.

UEFA secara resmi menunjuk Stephanie Frappart sebagai pejabat wasit di komite wasitnya, menjadikan perempuan Prancis itu sebagai salah satu figur kunci dalam pengelolaan perwasitan di kompetisi sepak bola Eropa. Pengumuman yang dirilis pada Kamis (25/6) ini menempatkan Frappart di posisi strategis yang bertanggung jawab atas pengembangan wasit, pemantauan performa, bimbingan teknis, serta penunjukan ofisial pertandingan untuk seluruh turnamen UEFA.
Langkah ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Frappart, yang telah menjadi wasit internasional sejak 2010, membawa rekam jejak yang nyaris tanpa cela. Ia tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin pertandingan Ligue 1 Prancis pada 2019, tepatnya laga antara Amiens dan Strasbourg. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi wasit utama di ajang UEFA Super Cup yang mempertemukan Liverpool dan Chelsea, sebuah partai yang menandai debut perempuan di laga papan atas Eropa kategori pria.
Puncak kariernya di level global terjadi pada 2022 ketika ia memimpin pertandingan fase grup Piala Dunia antara Kosta Rika dan Jerman di Qatar. Saat itu, ia menjadi perempuan pertama yang memimpin laga Piala Dunia pria, dengan tim ofisial yang seluruhnya perempuan. Di level wanita, Frappart juga memimpin final Piala Dunia Wanita 2019 dan final UEFA Women's Euro 2025, menunjukkan konsistensi di level tertinggi.
Penunjukan ini memiliki resonansi yang kuat di luar Eropa. Di Indonesia, di mana sepak bola wanita masih bergulat dengan minimnya infrastruktur dan dukungan, kiprah Frappart menjadi bukti bahwa kesetaraan gender di dunia perwasitan bukanlah utopia. Beberapa tahun terakhir, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mulai melirik wasit wanita untuk memimpin pertandingan Liga 1, meski jumlahnya masih sangat terbatas. Langkah UEFA bisa menjadi katalis bagi federasi di Asia Tenggara untuk lebih serius membina wasit wanita.
Menurut pengamat sepak bola internasional, peran baru Frappart di UEFA tidak hanya bersifat administratif. Ia diharapkan menjadi mentor bagi generasi wasit muda, terutama perempuan, dan mendorong standar perwasitan yang lebih tinggi. โFrappart membuktikan bahwa jenis kelamin bukanlah halangan untuk mencapai puncak. Kini, ia akan membantu menciptakan sistem yang memungkinkan lebih banyak perempuan mengikuti jejaknya,โ ujar seorang analis olahraga Eropa.
Ke depan, tantangan terbesar Frappart adalah memastikan bahwa pengembangan wasit tidak hanya berhenti pada angka partisipasi, tetapi juga kualitas. Dengan pengalaman memimpin laga-laga bertekanan tinggi, ia diyakini mampu membawa perspektif baru dalam pelatihan dan evaluasi wasit. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah federasi-federasi di Asia, termasuk Indonesia, mengambil pelajaran dari langkah progresif UEFA ini?



