Autopsi ASN Bangkalan: Tanda Kekerasan di Telinga, Diduga Mati Lemas
Baca dalam 60 detik
- Autopsi sementara menunjukkan luka robek di cuping telinga kiri akibat benda tumpul pada jasad ASN yang ditemukan di parkir Bandara Juanda.
- Dokter forensik mendeteksi kelainan pada selaput lendir mata dan bibir yang lazim pada kasus mati lemas, memperkuat dugaan asfiksia.
- Spekulasi kehamilan dan kekerasan seksual terbantahkan; hasil toksikologi dan uji laboratorium forensik dijadwalkan keluar dalam sepekan.

Hasil autopsi sementara terhadap aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Bangkalan, RYS (50), yang jasadnya ditemukan di area parkir Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, mengungkap adanya luka robek di cuping telinga kiri akibat kekerasan benda tumpul. Tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong juga menemukan sejumlah kelainan yang mengarah pada kematian akibat kekurangan oksigen atau asfiksia.
Ketua Tim Humas RS Bhayangkara, AKBP Ni Made Wiatini, menyatakan bahwa pemeriksaan luar menunjukkan luka robek pada cuping telinga kiri korban. Meski demikian, ia menegaskan pihaknya hanya menyampaikan fakta medis tanpa menarik kesimpulan terkait penyebab luka tersebut. "Kami menemukan luka robek pada cuping telinga, tetapi tidak bisa menjelaskan bagaimana kekerasan itu terjadi," ujarnya, Kamis (25/6).
Selain luka fisik, tim forensik mendapati pelebaran pembuluh darah pada selaput lendir kelopak mata dan kebiruan pada selaput lendir bibir atas dan bawah. "Kelainan ini lazim ditemukan pada kasus mati lemas atau asfiksia," kata Ni Made. Pemeriksaan bagian dalam memperkuat dugaan tersebut: lidah, epiglotis, dan saluran napas atas tampak berwarna merah kehitaman, sementara dinding lambung juga menunjukkan warna serupa. Tanda-tanda pembusukan sudah terlihat di seluruh organ tubuh.
Dua spekulasi yang sempat ramai di publik berhasil dipatahkan. Pemeriksaan dalam memastikan korban tidak dalam kondisi hamil, sementara swab vagina menunjukkan hasil negatif sperma. "Terkait dugaan perut membesar, setelah diperiksa ternyata korban tidak hamil," ungkap Ni Made. Hal ini sekaligus mengeliminasi kemungkinan motif kejahatan seksual dalam kasus ini.
Pihak rumah sakit telah mengambil sampel untuk uji toksikologi dari ginjal kanan dan kiri, lambung beserta isinya, serta kuku telunjuk kedua tangan. Sampel tersebut kini dikirim ke Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur. Ni Made memperkirakan hasil lengkap baru bisa diperoleh dalam waktu sekitar satu minggu. "Sampel sudah kami ambil dan kirim ke Labfor. Hasilnya menunggu, mungkin satu mingguan," katanya.
Kasus ini menyita perhatian publik karena korban adalah ASN aktif dan lokasi penemuan jasad yang tak lazim, yakni di area parkir bandara. Hingga kini, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil uji laboratorium. Pertanyaan yang tersisa: apakah luka di telinga merupakan bagian dari penganiayaan yang berujung kematian, ataukah ada faktor lain yang belum terungkap? Publik menanti kejelasan dari hasil forensik yang dijadwalkan rampung pekan depan.



