OVHcloud Buktikan Daya Tahan: Pendapatan Kuartal III Tumbuh 6,9% Berkat Layanan Publik Cloud
Baca dalam 60 detik
- Penyedia cloud asal Prancis, OVHcloud, mencatat pertumbuhan pendapatan organik 6,9% pada kuartal III, didorong oleh segmen public cloud yang melesat 20,2%.
- Kenaikan harga pada April lalu tidak menyurutkan permintaan, terutama dari pasar Eropa dan global yang tumbuh di atas 7%, melampaui pasar domestik.
- Dengan rasio retensi pendapatan bersih mencapai 102%, OVHcloud optimistis mencapai target tahunan dan memperkuat posisi di pasar cloud Eropa.

Penyedia layanan cloud asal Prancis, OVHcloud, membuktikan ketangguhan bisnisnya di tengah tekanan ekonomi global. Pada kuartal ketiga yang berakhir Mei 2024, perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan organik sebesar 6,9 persen, meningkat dari 5,1 persen pada kuartal sebelumnya. Kinerja ini terutama ditopang oleh segmen public cloud yang tumbuh dua digit, sekaligus menegaskan bahwa strategi kenaikan harga pada April lalu tidak menggerus minat pelanggan.
Pendapatan OVHcloud pada periode tiga bulan tersebut mencapai 289,6 juta euro (sekitar 329,28 juta dolar AS), naik dari 271,9 juta euro pada periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, dalam sembilan bulan pertama tahun fiskal, pendapatan perusahaan mencapai 844,9 juta euro, tumbuh 6 persen secara organik. Pertumbuhan ini dipimpin oleh pasar di luar Prancis: kawasan Eropa lainnya menyumbang kenaikan 7,4 persen, sementara pasar global tumbuh 8,6 persen, melampaui pertumbuhan domestik yang hanya 5,8 persen.
Segmen public cloud, yang menyewakan daya komputasi dan penyimpanan secara bayar sesuai pemakaian, menjadi bintang utama dengan pertumbuhan 20,2 persen menjadi 65,6 juta euro. Kontribusinya kini mencapai sekitar 23 persen dari total pendapatan. Lonjakan ini didorong oleh peluncuran VPS 2027, layanan server virtual yang ditargetkan untuk klien kecil dan menengah. Sementara itu, private cloud—infrastruktur khusus untuk klien individu—tumbuh 4,0 persen menjadi 174,0 juta euro, dan web cloud (domain dan hosting) naik tipis 2 persen menjadi 50 juta euro.
Yang menarik, rasio retensi pendapatan bersih (net revenue retention rate) mencapai 102 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pelanggan yang sudah ada justru meningkatkan belanja mereka dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi indikator loyalitas dan kepercayaan terhadap layanan OVHcloud. Perusahaan pun mengonfirmasi prospek setahun penuh, menandakan keyakinan manajemen terhadap momentum bisnis ke depan.
Bagi pelaku industri cloud di Indonesia, pencapaian OVHcloud menjadi cermin bahwa permintaan akan layanan cloud tetap kokoh meski ada penyesuaian harga. Di dalam negeri, persaingan penyedia cloud global seperti AWS, Google Cloud, dan Alibaba Cloud masih ketat, namun pemain Eropa seperti OVHcloud mulai menunjukkan eksistensi dengan pendekatan yang lebih terfokus pada segmen usaha kecil dan menengah. Strategi OVHcloud yang mengandalkan inovasi produk (VPS 2027) dan ekspansi geografis dapat menjadi pelajaran bagi penyedia lokal yang ingin meningkatkan pangsa pasar.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah OVHcloud mampu mempertahankan laju pertumbuhan public cloud di tengah persaingan harga dan munculnya pemain baru. Dengan fundamental yang solid dan ekspansi global yang agresif, perusahaan asal Prancis ini tampaknya siap menantang dominasi raksasa cloud Amerika. Namun, ketergantungan pada pasar Eropa dan risiko geopolitik tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.



