Jose Daniel Valencia: Kenangan Juara Dunia 1978 dan Optimisme Argentina di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Jose Daniel Valencia, gelandang Argentina juara Piala Dunia 1978, menolak disebut mantan juara dunia karena status itu melekat seumur hidup.
- Ia mengenang momen mengharukan setelah final: memilih memeluk ibunya di Jujuy daripada mengangkat trofi, yang baru disadari maknanya saat berusia 45-50 tahun.
- Valencia memprediksi Argentina, Prancis, dan Spanyol sebagai kandidat kuat Piala Dunia 2026, memuji Scaloni yang menerapkan gaya klasik dengan Messi sebagai poros.

Jose Daniel Valencia, salah satu arsitek kemenangan perdana Argentina di Piala Dunia 1978, menolak label "mantan juara dunia". Bagi gelandang yang akrab disapa La Rana itu, status juara dunia adalah identitas abadi, bukan sekadar catatan sejarah. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, ia menegaskan bahwa seorang pemain sepak bola tidak pernah benar-benar pensiun dari gelar yang telah diraihnya.
Valencia, yang menghabiskan sebagian besar kariernya di Talleres, tumbuh di bawah tribun stadion tempat ayahnya bekerja sebagai penjaga lapangan. Lingkungan itu membentuknya menjadi pesepak bola murni. "Taman kami adalah lapangan sepak bola. Saya bisa bermain dari pagi hingga lupa makan," kenangnya. Meski sempat menjadi nomor 10 di empat laga awal Piala Dunia 1978, cedera pergelangan kaki membuatnya hanya menjadi penonton saat Argentina mengalahkan Belanda 3-1 di final.
Momen paling berkesan bagi Valencia justru terjadi setelah peluit akhir berbunyi. Alih-alih ikut merayakan kemenangan, ia memilih pulang ke San Salvador de Jujuy untuk memeluk ibunya. "Saya tidak peduli dengan trofi atau medali. Saya hanya ingin memeluk ibu saya," ujarnya. Perjalanan darat sejauh 1.500 kilometer ditempuhnya dengan pengawalan polisi atas izin pelatih Cesar Luis Menotti. Pelukan itu, katanya, adalah piala dan medali sesungguhnya.
Valencia juga berbagi cerita tentang Maradona, yang menjadi teman dekat dan wali baptis salah satu putrinya. Ia menggambarkan Maradona sebagai pemain penuh energi, kapten yang tak pernah berhenti memberi semangat. "Dia bisa melakukan hal-hal gila dengan bola kertas yang diremas. Saya tidak pernah bisa menirunya," kenang Valencia. Pelatih Menotti pernah bingung menentukan kaki terkuat Valencia, sementara Maradona hanya punya satu kaki yang berguna—sebuah pujian terselubung atas ambidexteritas Valencia.
Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Valencia optimistis Argentina mampu bersaing. Ia menunjuk Lionel Scaloni sebagai pelatih yang berhasil menghidupkan kembali peran gelandang serang klasik—gaya yang mengingatkannya pada Brasil 1970. "Messi dalam performa terbaik. De Paul, Almada, Mac Allister—mereka seperti nomor 10 modern yang haus akan bola," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa sepak bola modern jauh lebih fisik dan intens, sehingga peran playmaker tradisional semakin langka.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, cerita Valencia menjadi pengingat bahwa kesetiaan pada klub dan keluarga bisa sejalan dengan prestasi tertinggi. Keputusannya menolak Real Madrid demi bertahan di Talleres mungkin terdengar tidak lazim di era globalisasi sepak bola saat ini, namun justru memperkaya narasi tentang makna kesuksesan. Pertanyaan yang tersisa: akankah Argentina mampu mempertahankan mahkota juara di tengah perubahan lanskap sepak bola dunia?



