S&P Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Nigeria, Inflasi Diprediksi Tembus 16,9%
Baca dalam 60 detik
- S&P Global memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Nigeria 2026 sebesar 30 basis poin menjadi 3,7%, di tengah tekanan inflasi yang terus meninggi.
- Lembaga pemeringkat itu menaikkan perkiraan inflasi Nigeria menjadi 16,9% pada 2026, tertinggi di antara negara berkembang Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
- Kenaikan harga energi dan pangan, ditambah belanja menjelang pemilu 2027, diprediksi membuat bank sentral Nigeria sulit menurunkan suku bunga.

S&P Global Ratings memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Nigeria untuk 2026 sebesar 30 basis poin, seiring ekspektasi inflasi yang tetap tinggi di negara berkembang. Dalam laporan Economic Outlook kuartal ketiga yang dirilis pekan ini, lembaga pemeringkat internasional itu memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Nigeria hanya tumbuh 3,7% tahun depan, turun dari proyeksi sebelumnya.
Revisi ini mencerminkan kekhawatiran bahwa tekanan harga yang persisten akan menghambat konsumsi rumah tanggaโsektor yang menyumbang porsi terbesar dalam perekonomian Nigeria. S&P juga menaikkan perkiraan inflasi Nigeria secara signifikan, dari 15,0% menjadi 16,9% pada 2026, menjadikannya revisi tertinggi di antara negara-negara berkembang di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA).
Laporan tersebut mencatat bahwa inflasi energi di Nigeria dan Turkiye telah meningkat tajam, sementara kenaikan biaya transportasi dan pupuk diperkirakan akan mendorong harga pangan lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Fenomena El Niรฑo yang muncul kembali turut mengancam pasokan pangan global. S&P juga menyoroti ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz yang membuat harga barang transit tetap berisiko tinggi.
Bagi Nigeria, tahun politik 2027 menjadi faktor tambahan yang memperumit prospek ekonomi. Sejumlah ekonom menilai belanja pemerintah menjelang pemilu akan mendorong inflasi lebih lanjut, sehingga bank sentral (Central Bank of Nigeria) hampir mustahil memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Bahkan, S&P memperkirakan beberapa bank sentral di negara berkembang mungkin justru mengetatkan kebijakan moneter jika Federal Reserve AS menaikkan suku bunga.
Meskipun prospek jangka pendek suram, S&P melihat beberapa faktor penopang. Produksi minyak Nigeria yang lebih tinggi dan stabilitas nilai tukar diperkirakan akan menjaga pertumbuhan tetap positif. Di sisi lain, investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan hiper-skala global diperkirakan menguntungkan sejumlah negara berkembang, terutama di Asia, melalui ekspor semikonduktor dan komponen terkait.
Bagi Indonesia, laporan S&P ini menjadi pengingat akan kerentanan negara berkembang terhadap guncangan harga energi dan pangan. Meskipun fundamental ekonomi Indonesia lebih kuat dengan inflasi yang relatif terkendali, kenaikan harga pupuk dan dampak El Niรฑo tetap perlu diwaspadai. Bank Indonesia pun terus mempertahankan sikap hawkish untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Nigeria dan negara berkembang lainnya mampu menavigasi tekanan inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan. S&P memperkirakan pertumbuhan negara berkembang (tanpa China) akan membaik menjadi 4,6% pada 2027, namun jalan menuju pemulihan masih dipenuhi ketidakpastian, terutama dari arah kebijakan moneter AS dan dinamika geopolitik global.



