Lebih dari Sekadar Sepak Bola: Warga Korea-Amerika Rayakan Identitas di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Ratusan warga Korea-Amerika memadati Liberty Park di Los Angeles untuk menonton laga Korea Selatan, menjadikan acara itu sebagai ajang penguatan identitas budaya.
- Meski timnas kalah 1-0 dari Afrika Selatan, semangat kebersamaan tetap membara dengan tarian, nyanyian, dan hidangan khas Korea.
- Fenomena diaspora ini mengingatkan pada antusiasme komunitas Indonesia di luar negeri yang juga menjadikan Piala Dunia sebagai momentum mempererat ikatan dengan tanah air.

Ribuan warga Korea-Amerika yang mengenakan pakaian serba merah dan mengibarkan bendera Taegeukgi mengubah Liberty Park di Koreatown Los Angeles menjadi miniatur Seoul pada Rabu (24/6) malam. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan laga pamungkas Grup H Piala Dunia Wanita antara Korea Selatan dan Afrika Selatan, melainkan untuk merayakan akar budaya yang tak lekang oleh jarak dan waktu.
Dengan slogan "Keeping Our Roots Eternal" yang terpampang di spanduk, kaos, dan stan makanan, acara nonton bareng itu menjelma menjadi festival identitas. Ribuan kilometer memisahkan Los Angeles dari Monterrey, Meksiko, tempat pertandingan berlangsung, namun atmosfer di taman itu terasa seperti berada di jantung Seoul. Keluarga-keluarga antre menikmati tteokbokki dan kimchi, sementara anak-anak berlarian dengan wajah dihias cat bergambar bendera Korea.
Pertunjukan drum dan koreografi cheerleader mengiringi sorak-sorai penonton yang tak pernah padam, bahkan ketika Korea Selatan kebobolan di babak kedua dan akhirnya kalah 1-0. Saat jeda hidrasi, para cheerleader kembali ke panggung dan memimpin penonton menari mengikuti lagu "Gangnam Style" Psy serta musik dari film animasi "KPop Demon Hunters". Kekecewaan seketika berubah menjadi euforia.
Bagi banyak pengunjung, acara ini lebih dari sekadar sepak bola. Irene Choi, warga Los Angeles kelahiran AS yang ibunya memiliki sekolah balet di komunitas Korea, mengaku acara seperti ini menjadi jembatan emosional dengan tanah leluhur. "Saya ingin merasakan Piala Dunia di Korea, tapi belum pernah. Nonton bareng di K-Town ini adalah yang terbaik. Ini menyatukan komunitas kami," ujarnya.
Mitchell Lee, pekerja nirlaba dari Maryland yang sedang berkunjung untuk menghadiri pernikahan keluarga, menegaskan bahwa sepak bola tetap menjadi salah satu ikatan terkuat keluarganya dengan akar budaya. "Kami senang bersorak bersama sebagai satu komunitas," katanya. Sementara itu, Donnie, seorang perawat yang tinggal di Los Angeles sejak kecil, mengaku bukan penggemar sepak bola, tetapi Piala Dunia selalu membangkitkan kebanggaan nasional. "Lebih seru menonton bersama keramaian daripada sendirian di rumah," tambahnya.
Fenomena serupa sebenarnya juga terjadi di kalangan diaspora Indonesia. Di berbagai kota besar dunia, komunitas Indonesia kerap menggelar acara nonton bareng saat timnas bertanding, terutama di ajang Piala Dunia atau Piala AFF. Momen-momen itu tidak hanya menjadi ajang dukungan olahraga, tetapi juga pengingat akan identitas dan kebersamaan di tengah perantauan. Seperti yang terjadi di Los Angeles, semangat "Keeping Our Roots Eternal" menjadi benang merah yang menghubungkan generasi muda diaspora dengan warisan budaya mereka.
Ketika peluit panjang berbunyi menandai kekalahan Korea Selatan, para pendukung masih bertahan di Liberty Park. Genderang terus ditabuh, bendera berkibar, dan obrolan hangat mengalir di antara pengunjung. Satu hal yang pasti: bagi mereka, Piala Dunia bukan sekadar turnamen, melainkan panggung untuk merayakan siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal. Pertanyaannya, akankah semangat serupa terus menyala di Piala Dunia mendatang, terutama saat Indonesia mulai bermimpi untuk ikut serta?



