Keputusan Kontroversial Hong Myung-bo: Son Heung-min Jadi Cadangan, Korsel Tersingkir?
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Hong Myung-bo mengakui sengaja menyimpan Son Heung-min di bangku cadangan untuk memanfaatkan kelemahan Afrika Selatan di babak kedua, namun strategi itu gagal total.
- Kekalahan 1-0 membuat Korea Selatan finis di posisi ketiga Grup A dengan tiga poin, dan kelolosan mereka ke babak gugur Piala Dunia 2026 kini tergantung pada hasil pertandingan grup lain.
- Keputusan taktis ini memicu perdebatan tentang manajemen pemain bintang di turnamen besar, relevan bagi timnas Indonesia yang kerap menghadapi dilema serupa.

Keputusan pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo, untuk tidak menurunkan kapten sekaligus bintang utama Son Heung-min sejak menit awal pada laga penentu melawan Afrika Selatan berujung petaka. Tim Taeguk Warriors harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 1-0 di Monterrey, Rabu (24/6), dan kini posisi mereka di Piala Dunia 2026 menggantung.
Hong mengungkapkan bahwa ia sengaja menyimpan Son untuk babak kedua dengan harapan sang penyerang bisa mengeksploitasi pertahanan Afrika Selatan yang mulai kelelahan. "Kami berpikir ketika lawan masih memiliki banyak energi, lebih baik menggunakan Son di akhir pertandingan saat mereka mulai kehilangan stamina dan ada lebih banyak ruang. Kami ingin memanfaatkannya saat mereka lemah," ujar Hong dalam konferensi pers usai laga.
Namun, rencana itu tidak berjalan mulus. Son yang baru dimasukkan pada babak kedua menggantikan Hwang Hee-chan gagal memberikan dampak signifikan. Sepanjang 45 menit di lapangan, pergerakannya mudah dibaca barisan belakang Afrika Selatan yang tetap disiplin meski kelelahan. Statistik mencatat Son hanya melepaskan satu tembakan yang tidak mengarah ke gawang.
Hong juga menyoroti buruknya performa tim di lini tengah. "Kami mempersiapkan diri dengan baik, tetapi dibandingkan pertandingan sebelumnya, kami terlalu banyak melakukan kesalahan di lini tengah. Itulah mengapa pemain kehilangan kepercayaan diri. Kami tahu bagaimana seharusnya bermain, tetapi eksekusi di lapangan tidak cukup baik," keluhnya. Kegagalan menguasai area tengah membuat Korea Selatan kesulitan membangun serangan terstruktur, sehingga umpan-umpan terobosan yang diharapkan untuk Son tidak pernah tercipta.
Kekalahan ini menempatkan Korea Selatan dalam posisi genting. Mereka harus menunggu hasil pertandingan dari grup lain untuk menentukan apakah tiga poin yang dikumpulkan cukup untuk melaju sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Situasi ini mengingatkan pada drama Piala Dunia 2010 ketika Korea Selatan juga bergantung pada hasil tim lain, namun saat itu mereka berhasil lolos.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, keputusan Hong menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia kerap menghadapi dilema serupa: apakah menurunkan pemain bintang sejak awal atau menyimpannya sebagai "senjata rahasia" di babak kedua. Pelatih Shin Tae-yong, yang pernah menukangi Korea Selatan di Piala Dunia 2018, juga sering menerapkan strategi serupa. Namun, kegagalan Hong kali ini menunjukkan bahwa taktik tersebut berisiko tinggi, terutama jika lawan mampu membaca skenario dan tetap solid sepanjang laga.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Korea Selatan mendapat berkah dari hasil pertandingan grup lain? Atau justru keputusan kontroversial Hong ini akan dikenang sebagai blunder yang membuat Son Heung-min harus pulang lebih awal? Satu hal yang pasti, drama kelolosan Piala Dunia 2026 masih menyisakan cerita yang belum usai.



