Morocco Tak Kenal Batas: Generasi Muda Siap Ulang Sukses Piala Dunia 2022
Baca dalam 60 detik
- Morocco menjadi tim pertama yang lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Haiti 4-2, mencatatkan lima kemenangan dalam dua edisi terakhir.
- Pelatih Mohamed Ouahbi dan para pemain kunci seperti Bono serta Chadi Riad percaya diri dengan kedalaman skuad muda yang ambisius, hasil didikan dari keberhasilan U-20.
- Keberhasilan ini menunjukkan regenerasi sukses Morocco, dengan 14 pemain lahir tahun 2000 ke atas, dan menjadi contoh bagi negara berkembang termasuk Indonesia.

Morocco memastikan diri sebagai tim pertama yang melaju ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menekuk Haiti 4-2 dalam laga Grup C, Kamis (20/6) waktu setempat. Kemenangan ini bukan sekadar angka: untuk pertama kalinya dalam sejarah, Singa Atlas mencetak empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia, sekaligus menegaskan bahwa generasi baru mereka siap bersaing di level tertinggi.
Pelatih Mohamed Ouahbi, yang sebelumnya membawa Morocco juara Piala Dunia U-20 2025, menyebut timnya kini "beroperasi di level berbeda". Keyakinan itu diamini oleh kiper senior Yassine Bounou (Bono) dan bek muda Chadi Riad. Bagi Bono, yang telah merasakan tiga edisi Piala Dunia, evolusi Morocco terlihat jelas: dari tim underdog di Rusia 2018, menjadi semifinalis di Qatar 2022, dan kini sebagai tim yang haus prestasi. "Kami terus berkembang, meski hasil tak selalu menunjukkan. Semoga keberuntungan berpihak dan kami bisa melangkah jauh," ujar Bono kepada FIFA usai laga.
Yang menarik, keberhasilan ini tidak hanya bertumpu pada pahlawan 2022. Ouahbi, yang melatih tim U-20 sejak 2022, telah menyiapkan kader muda secara sistematis. Dalam laga kontra Haiti, tiga pemain yang pernah bersamanya di laga debut U-20 melawan Rumania pada Maret 2022—Redouane Halhal, Chadi Riad, dan Bilal El Khannouss—tampil sebagai starter. Riad, bek Crystal Palace berusia 23 tahun yang baru pertama kali merasakan Piala Dunia, menegaskan semangat kolektif tim. "Kami semua menarik ke arah yang sama. Para pemain 2022 adalah panutan, dan kami tak ingin kalah dari mereka. Tim ini muda, tapi sangat ambisius," katanya.
Kepercayaan diri itu juga diamini Bono. Kiper berusia 33 tahun itu menekankan pentingnya transfer pengalaman dari generasi senior ke junior. "Di setiap pertandingan, Anda bisa melihat pemain bermain dengan sepenuh hati, seperti yang kami lakukan di 2022. Tim ini masih sama. Kami pemain senior harus terus mewariskan semangat itu," tambahnya.
Bagi Indonesia, perjalanan Morocco menjadi studi kasus menarik. Dalam beberapa tahun terakhir, PSSI dan pemerintah gencar membangun program pembinaan usia muda, termasuk dengan naturalisasi pemain diaspora. Namun, keberhasilan Morocco menunjukkan bahwa regenerasi yang terencana—dari level U-20 hingga senior—dengan pelatih yang konsisten bisa membuahkan hasil dalam waktu relatif singkat. Ouahbi, yang menangani U-20 sejak 2022 dan kemudian dipercaya menangani tim senior, adalah contoh nyata kesinambungan filosofi. Jika Indonesia ingin bersaing di level Asia dan dunia, investasi pada pelatih jangka panjang dan kompetisi usia muda seperti Piala Dunia U-20 menjadi krusial.
Dengan satu kaki di babak 32 besar, Morocco kini menanti lawan di fase gugur. Pertanyaan besarnya: mampukah generasi emas baru ini melampaui capaian semifinal 2022? Atau justru ambisi tanpa batas ini akan menjadi bumerang? Yang jelas, Singa Atlas telah memberikan peringatan kepada seluruh peserta Piala Dunia 2026: mereka datang bukan sekadar untuk berpartisipasi.



