Haiti Pulang dengan Kepala Tegak: Semangat Pantang Menyerah di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Haiti gagal meraih poin perdana di Piala Dunia 2026 setelah kalah 4-2 dari Maroko, namun pelatih Sebastien Migne memuji perjuangan pemain yang dua kali unggul.
- Kembali ke putaran final setelah 52 tahun, Haiti menunjukkan perlawanan sengit meski harus tersingkir di fase grup tanpa satu kemenangan pun.
- Migne menegaskan timnya layak berada di panggung dunia dan berharap Haiti tidak perlu menunggu setengah abad lagi untuk tampil di Piala Dunia.

Haiti harus mengakui keunggulan Maroko 4-2 dalam laga pamungkas Grup C Piala Dunia 2026 di Atlanta, Rabu (24/6), namun pelatih Sebastien Migne menolak menyesali penampilan anak asuhnya. Bagi Migne, hasil akhir memang pahit, tapi semangat juang yang ditunjukkan sepanjang turnamen menjadi kebanggaan tersendiri.
Bermain di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974, Haiti sudah dipastikan tersingkir setelah dua kekalahan sebelumnya. Namun, melawan Maroko, mereka dua kali memimpin melalui gol cepat sebelum akhirnya kebobolan dua gol di menit-menit akhir. โSaya kecewa dengan hasilnya, saya ingin kami mencetak lebih banyak gol dan menang. Tapi saya tidak merasa para pemain menyerah. Bahkan setelah gol ketiga, saya khawatir kami akan runtuh,โ ujar Migne.
Migne menyebut kegigihan itu adalah cerminan budaya Haiti yang tidak mudah menyerah. โIni soal budaya orang Haiti. Mereka tidak menyerah begitu saja. Jadi mereka adalah cerminan yang baik dari budaya negara kami. Mereka mewakili negaranya dengan benar,โ tambahnya.
Meski tanpa poin, Migne menilai penampilan Haiti membuktikan bahwa mereka layak berada di panggung sepak bola dunia. โKami berhasil menunjukkan bahwa kami layak mendapatkan kualifikasi ini. Kami berada di tempat yang tepat. Sekarang kami perlu melakukan perbaikan dan tidak menunggu 52 tahun lagi,โ tegasnya. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa bagi negara kecil seperti Haiti, tampil di Piala Dunia adalah pencapaian monumental yang harus dirayakan, sekaligus menjadi fondasi untuk masa depan.
Bagi Indonesia, perjalanan Haiti bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia yang juga lama absen dari panggung dunia (terakhir 1938) tengah berjuang untuk kembali ke Piala Dunia. Semangat pantang menyerah Haiti menunjukkan bahwa kualitas tidak selalu diukur dari hasil akhir, melainkan dari keberanian untuk bersaing. โIni adalah babak baru yang matang dalam sejarah Haiti. Kami sangat dekat untuk membuat sejarah di Piala Dunia ini, dan jika kami tidak bisa menang, kami ingin meninggalkan Piala Dunia dengan kepala tegak, dan saya pikir kami berhasil,โ pungkas Migne.
Ke depan, Haiti harus membangun dari pengalaman ini. Dengan regenerasi pemain dan pembinaan yang lebih baik, bukan tidak mungkin Haiti akan kembali lebih kuat. Pertanyaannya, mampukah mereka mempersingkat waktu tunggu yang selama ini setengah abad?



