Adidas Ungguli Nike di Piala Dunia, Data Awal Tunjukkan Lonjakan Penjualan
Baca dalam 60 detik
- Data M Science mencatat belanja apparel Adidas melonjak 70% pada Mei 2026, jauh di atas pertumbuhan Nike, didorong penjualan jersey.
- Kunjungan ke toko Adidas di AS naik 47% pada pekan pertama Piala Dunia, sementara Nike justru turun dibanding tahun lalu.
- Nike masih menguasai pangsa pasar alas kaki global dua kali lipat Adidas, namun tekanan dari pesaing baru dan penurunan permintaan produk klasik menggerus dominasinya.

Persaingan merek olahraga raksasa di ajang Piala Dunia 2026 mulai memperlihatkan pemenang sementara: Adidas. Data awal menunjukkan bahwa perusahaan asal Jerman itu menuai keuntungan lebih besar ketimbang Nike dalam hal penjualan apparel dan lalu lintas toko, meski Nike masih memegang posisi dominan di pasar alas kaki global.
Menurut analis M Science, Drake MacFarlane, belanja konsumen untuk produk Adidas melonjak 70 persen pada Mei 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan tren itu berlanjut hingga Juni. Lonjakan ini terutama didorong oleh penjualan jersey tim nasional, yang menjadi andalan Adidas sebagai sponsor resmi Piala Dunia. Perusahaan yang identik dengan sepak bola itu memasok bola pertandingan dan mendandani 14 tim peserta, sementara Nike hanya menangani 12 tim.
Data lalu lintas pejalan kaki dari Placer.ai menguatkan temuan tersebut. Kunjungan ke gerai Adidas di Amerika Serikat melonjak 47 persen pada pekan pertama turnamen dibandingkan rata-rata kunjungan tahun 2026. Sebaliknya, toko pabrik Nike hanya mencatat kenaikan 11 persen, dan jika dibandingkan dengan pekan yang sama tahun lalu, kunjungan ke Nike justru menurun. Elizabeth Lafontaine, direktur riset Placer.ai, menilai Adidas berhasil menjadi merek yang paling diingat konsumen berkat aktivasi toko yang efektif selama ajang tersebut.
Namun, Nike masih memiliki secercah harapan. Laporan LSEG menunjukkan bahwa 28 persen merchandise Nike bertema Piala Dunia di AS ludes terjual dalam dua pekan pertama turnamen, jauh di atas Adidas yang hanya 7 persen. Di lapangan, analisis Reuters mencatat 232 dari 528 pemain starter Piala Dunia menggunakan sepatu Nike, sedikit di atas Adidas yang mencatat 218 pemain. David Swartz, analis Morningstar, menilai visibilitas kuat Nike di turnamen tetap menguntungkan bagi kekuatan mereknya.
Bagi Indonesia, persaingan ini relevan mengingat pasar alas kaki dan apparel olahraga Tanah Air yang terus tumbuh. Merek-merek global seperti Adidas dan Nike bersaing ketat di pusat perbelanjaan dan platform e-commerce, sementara merek lokal seperti Specs dan Ortuseight mulai merebut pangsa pasar. Tren penjualan jersey tim nasional, terutama saat ajang seperti Piala Dunia atau Piala Asia, kerap menjadi barometer popularitas merek di kalangan konsumen Indonesia.
Nike, di bawah kepemimpinan CEO Elliott Hill yang baru menjabat sejak 2024, berjanji untuk kembali fokus pada olahraga inti seperti sepak bola dan lari. Perusahaan mengakui telah kehilangan obsesi terhadap olahraga dan kini berupaya membalikkan penurunan pangsa pasar. Namun, analis seperti Mari Shor dari Columbia Threadneedle mengingatkan bahwa visibilitas turnamen saja tidak cukup. โPada akhirnya, semua tergantung pada produk. Jika produk Nike tidak resonan, sisanya tidak berarti,โ ujarnya.
Meski Adidas unggul sementara, Nike tetap menjadi pemain terbesar. Pangsa pasar alas kaki global Nike masih hampir dua kali lipat Adidas, meski turun dari 29,2 persen pada 2022 menjadi 22,9 persen tahun lalu. Sarah Henry, manajer portofolio Logan Capital Management, menyebut Nike sebagai โanjing terbesar dalam pertarunganโ yang seharusnya mampu memukul keras pesaing. Pertanyaannya, apakah langkah revitalisasi Elliott Hill cukup cepat untuk mengembalikan kejayaan Nike di tengah gempuran Adidas dan merek pendatang baru seperti On dan Deckers?



