Jasad ASN Bangkalan di Parkir Bandara Juanda: Keluarga Curiga Ada Pihak Ketiga
Baca dalam 60 detik
- Seorang ASN Dinas PRKP Bangkalan ditemukan tewas di dalam mobil dinas di parkir Terminal 1 Bandara Juanda setelah hilang kontak sejak 20 Juni.
- Kuasa hukum keluarga menyoroti sejumlah kejanggalan, termasuk posisi jenazah di kursi penumpang dan tidak adanya keperluan korban ke bandara.
- Polresta Sidoarjo masih melakukan penyelidikan dengan mengamankan ponsel korban dan barang bukti lain untuk mengungkap penyebab kematian.

Penemuan jasad seorang perempuan di dalam mobil Toyota Innova hitam di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Surabaya, pada Rabu (24/6) lalu, membuka tabir misteri yang makin pelik. Korban diketahui adalah RYS (50), aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Bangkalan, yang dilaporkan hilang sejak akhir pekan sebelumnya.
Kuasa hukum keluarga, Risang Bima Wijaya, mengonfirmasi identitas korban meski kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan lanjut. Menurut Risang, RYS terakhir terlihat berangkat kerja pada Kamis (18/6) menggunakan mobil dinas berpelat merah M 1090 GP. Komunikasi dengan keluarga masih berlangsung hingga Sabtu (20/6) pagi, namun setelah itu korban tak bisa dihubungi sama sekali. "Jumat masih video call dengan adiknya, teleponan dengan anaknya, chatting dengan suaminya. Sabtu pagi masih chatting, siang sudah tidak bisa dihubungi," ujar Risang.
Sejumlah kejanggalan mendorong keluarga menduga adanya pihak ketiga dalam peristiwa ini. Risang menyoroti posisi jenazah yang ditemukan di kursi penumpang depan sebelah kiri, bukan di kursi pengemudi. "Ada dugaan ada seseorang yang di dalam mobil itu juga," katanya. Keluarga juga tidak mengetahui alasan korban berada di bandara. Tidak ada jadwal perjalanan, tidak ada yang diantar, dan tidak ada nama yang pernah disebut korban terkait keperluan ke bandara. Risang menegaskan, "Memang oleh orang yang membawa, sengaja dibuang di situ saja."
Kondisi kesehatan RYS disebut memiliki riwayat lambung akut yang kerap kambuh, namun tidak memerlukan pengobatan rutin. Risang juga memastikan tidak ada konflik atau perselisihan yang diketahui keluarga. "Kalaupun ada, berarti sangat rapi disembunyikan. Tapi saya rasa tidak ada," ujarnya. Dengan kondisi jenazah yang sudah membusuk, pemeriksaan kasat mata untuk membedakan lebam mayat atau lebam akibat kekerasan menjadi sulit. "Biarlah dokter yang memberi kesimpulan," tambah Risang.
Polresta Sidoarjo telah menerjunkan tim Inafis dan Polsek Sedati untuk melakukan penyelidikan. Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo, AKP Siko, mengatakan pihaknya masih melakukan identifikasi di tempat kejadian perkara (TKP). Jenazah telah dibawa ke RS Pusdik Bhayangkara Porong untuk autopsi. Sementara itu, sejumlah barang bukti seperti ponsel korban dan barang-barang di dalam mobil telah diamankan. Risang berharap petunjuk dari barang bukti tersebut dapat mempercepat pengungkapan kasus. "Mudah-mudahan dengan petunjuk ini dan bantuan dari pihak bandara bisa cepat diungkap dan ditangkap," ujarnya.
Penemuan mayat bermula dari kecurigaan sejumlah driver taksi online yang mangkal di bandara. Mereka melihat mobil mengeluarkan bau busuk dan meneteskan cairan tidak lazim. Saksi Bagus Tri menuturkan, saat dilihat dari kaca, tampak seorang perempuan duduk bersandar di kursi depan kiri dalam kondisi bengkak, mengenakan baju kuning dan jilbab. Para driver segera melapor ke petugas keamanan bandara. General Manager Bandara Juanda, Muhammad Tohir, membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan manajemen mendukung penuh investigasi kepolisian.
Kasus ini menyisakan tanda tanya besar: bagaimana seorang ASN yang tidak memiliki urusan di bandara bisa ditemukan tewas di dalam mobil dinasnya yang terparkir selama berhari-hari? Akankah petunjuk dari ponsel dan barang bukti lain mampu mengungkap tabir di balik peristiwa ini? Publik menanti hasil penyelidikan Polresta Sidoarjo.



