Piala Dunia 2026: Turki Ingin Pulang dengan Kepala Tegak Usai Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Turki dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah dua kekalahan tanpa gol dari Australia dan Paraguay.
- Kenan Yildiz, bintang muda Turki, berjanji tim akan tampil habis-habisan di laga terakhir melawan tuan rumah AS demi menjaga harga diri.
- Pelatih Vincenzo Montella meminta dukungan publik untuk pemain yang kecewa, sembari menatap turnamen masa depan.

Turki harus mengakui keunggulan lawan-lawannya di Grup A Piala Dunia 2026 dan memastikan langkah mereka terhenti lebih awal, bahkan sebelum pertandingan terakhir melawan tuan rumah Amerika Serikat digelar. Namun, semangat skuad asuhan Vincenzo Montella tak lantas padam: mereka bertekad menutup perjalanan dengan performa terbaik.
Dua kekalahan beruntun dari Australia dan Paraguay tanpa sekalipun mencetak gol membuat Turki menjadi tim pertama yang tersingkir di turnamen tahun ini. Statistik memang menunjukkan dominasi dalam hal jumlah tembakan dan duel di sepertiga lapangan lawan, tetapi sepak bola tidak selalu berpihak pada angka. "Kami unggul dalam beberapa kategori statistik, tapi itu tidak cukup. Mereka yang mencetak gol, kami yang pulang," ujar Kenan Yildiz, pemain muda berusia 21 tahun yang menjadi sorotan.
Yildiz, yang kini bermain di Juventus, mengakui kekecewaan mendalam karena gagal memenuhi ekspektasi tinggi publik Turki. "Saya minta maaf kepada suporter yang sudah datang mendukung kami. Kami akan berusaha lebih keras di turnamen mendatang untuk membuat kalian bangga lagi," katanya dalam konferensi pers jelang laga melawan AS.
Pelatih asal Italia, Vincenzo Montella, juga tak menutupi kekecewaannya. "Saya yang paling kecewa, tapi saya juga sangat termotivasi untuk masa depan, terutama untuk pertandingan besok. Saya meminta negara untuk tetap mendukung para pemain ini," ucap Montella. Ia menekankan bahwa timnya masih memiliki satu kesempatan untuk menunjukkan karakter dan kebanggaan.
Bagi Indonesia, perjalanan Turki di Piala Dunia 2026 ini bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia yang tengah berjuang menembus putaran final Piala Dunia di masa depan perlu belajar dari kegagalan Turki: statistik dominan tidak menjamin kemenangan, dan tekanan ekspektasi publik harus dikelola dengan baik. Selain itu, kegagalan mencetak gol dalam dua laga beruntun menunjukkan pentingnya efektivitas di lini depanโsebuah masalah yang juga kerap dihadapi skuad Garuda.
Yildiz, yang diproyeksikan menjadi bintang masa depan Turki, berjanji timnya akan tampil menyerang di laga pamungkas. "Kami akan mencoba yang terbaik untuk menyerang, dan saya yakin kami akan mencetak gol di pertandingan terakhir," tegasnya. Namun, pertanyaan besarnya: mampukah mereka mengakhiri turnamen dengan kemenangan, atau justru menambah deretan kekecewaan? Jawabannya akan terlihat di lapangan nanti.



