Proyek BTO Singapura: Permintaan Melonjak di Lokasi Premium, Proyek Pinggiran Sepi Peminat
Baca dalam 60 detik
- Proyek BTO di Sembawang dengan masa tunggu pendek justru kurang diminati, dengan rasio aplikasi di bawah 1 untuk keluarga pertama kali.
- Sebaliknya, proyek Prime di Bukit Merah dan Bishan menarik 65% total pelamar, meski memiliki periode huni minimum 10 tahun dan klaim balik subsidi.
- Pemerintah Singapura berencana meluncurkan 20.000 unit dua ruang fleksibel antara 2026-2028 untuk memenuhi permintaan lansia dan lajang.

Proyek rumah susun (Build-to-Order/BTO) di kawasan Sembawang, Singapura, yang menawarkan masa tunggu lebih singkat justru mencatatkan permintaan rendah, sementara proyek di lokasi strategis seperti Bukit Merah dan Bishan kebanjiran peminat. Data per Rabu (24/6) menunjukkan bahwa rasio aplikasi untuk keluarga pertama kali di Sembawang Portico dan Sembawang Brook kurang dari satu, artinya hampir setiap pelamar pasti mendapat unit.
Fenomena ini kontras dengan ekspektasi bahwa masa tunggu pendek akan menjadi daya tarik utama. Kedua proyek di Sembawang itu memiliki waktu tunggu sekitar 2 tahun 7 bulan hingga 2 tahun 9 bulan, namun lokasinya yang lebih dari 2 kilometer dari stasiun MRT Sembawang dinilai menjadi kelemahan signifikan. Menurut Lee Sze Teck, Direktur Senior Analitik Data Huttons Asia, jarak yang jauh dari transportasi massal menjadi “nilai minus besar” bagi pelamar.
Di sisi lain, proyek Prime seperti Berlayar Rise di Bukit Merah dan Lakeview Cascadia di Bishan menyerap sekitar 65 persen total pelamar. Berlayar Rise, misalnya, menerima 5.023 pendaftar untuk 988 unit empat ruang—rasio tertinggi di semua tipe unit. Christine Sun, Kepala Peneliti dan Strategis Realion (OrangeTee & ETC) Group, menyebut hasil ini sesuai prediksi karena lokasi unggul dan potensi apresiasi modal menjadi magnet utama. “Pilihan rumah susun sekunder terbatas, sementara kondominium pribadi bisa lebih dari S$2 juta,” ujarnya.
Menariknya, permintaan tinggi terjadi meskipun proyek Prime memberlakukan periode huni minimum (MOP) 10 tahun dan kewajiban mengembalikan sebagian subsidi saat menjual unit. Eugene Lim, Kepala Eksekutif ERA Singapore, menilai bahwa keterjangkauan harga unit empat ruang di kedua proyek membuatnya menjadi “titik masuk yang dapat diterima” bagi pembeli pertama. Sementara itu, proyek Plus di Ang Mo Kio—Kebun Baru Ridge dan Kebun Baru Breeze—mendapat permintaan sedang, dengan rasio 1,3 untuk keluarga pertama kali.
Analis menyebut persaingan yang melonggar ini menandakan bahwa peningkatan pasokan BTO mulai menjawab kebutuhan perumahan. Menteri Pembangunan Nasional Chee Hong Tat dalam unggahan Facebook menyatakan bahwa pemerintah akan terus menyediakan pasokan rumah yang kuat dan beragam, termasuk 20.000 unit dua ruang fleksibel untuk lansia dan lajang pada 2026–2028. Pada Oktober 2026, sekitar 7.960 unit baru akan diluncurkan di Bedok, Geylang, Sembawang, Tengah, Toa Payoh, dan Yishun.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini relevan mengingat program sejenis seperti rumah susun sederhana milik (rusunami) juga menghadapi tantangan lokasi dan preferensi konsumen. Keberhasilan proyek BTO Singapura menunjukkan bahwa faktor aksesibilitas dan fasilitas tetap menjadi prioritas utama, bahkan ketika masa tunggu lebih lama. Pertanyaannya, apakah pengembang di Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa untuk meningkatkan daya tarik rumah susun di pinggiran kota?



